Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Juli 2010

Laksamana Malahayati, Laksamana Wanita Indonesia yang Terlupakan




Bicara soal perempuan hebat, ada sedikit cerita tentang sosok perempuan lain yang berbeda generasi dari RA Kartini. Perempuan yang untuknya tidak ada lagu pujian. Pahlawan yang jarang disebut namanya. pahlawan yang tidak pernah diungkit sejarahnya. Laksamana perempuan pertama di dunia. Petarung garis depan. Pemimpin laskar Inong Balee yang disegani musuh dan kawan. Dialah Laksamana Malahayati.

Kisah Laksamana Malahayati walaupun tidak banyak, semua bercerita tentang kepahlawanannya. Pada saat dibentuk pasukan yang prajuritnya terdiri dari para janda yang kemudian dikenal dengan nama pasukan Inong Balee, Malahayati adalah panglimanya (suami Malahayati sendiri gugur pada pertempuran melawan Portugis). Konon kabarnya, pembentukan Inong Balee sendiri adalah hasil buah pikiran Malahayati. Malahayati juga membangun benteng bersama pasukannya dan benteng tersebut dinamai Benteng Inong Balee.

Karir militer Malahayati terus menanjak hingga ia menduduki jabatan tertinggi di angkatan laut Kerajaan Aceh kala itu. Sebagaimana layaknya para pemimpin jaman itu, Laksamana Malahayati turut bertempur di garis depan melawan kekuatan Portugis dan Belanda yang hendak menguasai jalur laut Selat Malaka.

Di bawah kepemimpinan Malahayati, Angkatan Laut Kerajaan Aceh terbilang besar dengan armada yang terdiri dari ratusan kapal perang. Adalah Cornelis de Houtman, orang Belanda pertama yang tiba di Indonesia, pada kunjungannya yang ke dua mencoba untuk menggoyang kekuasaan Aceh pada tahun 1599. Cornelis de Houtman yang terkenal berangasan, kali ini ketemu batunya. Alih-alih bisa meruntuhkan Aceh, armadanya malah porak poranda digebuk armada Laksamana Malahayati. Banyak orang-orangnya yang ditawan dan Cornelis de Houtman sendiri mati dibunuh oleh Laksamana Malahayati pada tanggal 11 September 1599.

Selain armada Belanda, Laksamana Malahayati juga berhasil menggebuk armada Portugis. Reputasi Malahayati sebagai penjaga pintu gerbang kerajaan membuat Inggris yang belakangan masuk ke wilayah ini, memilih untuk menempuh jalan damai. Surat baik-baik dari Ratu Elizabeth I yang dibawa oleh James Lancaster untuk Sultan Aceh, membuka jalan bagi Inggris untuk menuju Jawa dan membuka pos dagang di Banten. Keberhasilan ini membuat James Lancaster dianugrahi gelar bangsawan sepulangnya ia ke Inggris.

Ketika Negara-negara maju berkoar masalah kesetaraan gender terutama terhadap Negara berkembang dewasa ini, wilayah nusantara telah lama mempunyai pahlawan gender yang luar biasa. Laksamana perang wanita pertama di dunia.

Nama Malahayati saat ini terserak di mana-mana, sebagai nama jalan, pelabuhan, rumah sakit, perguruan tinggi dan tentu saja … nama kapal perang. KRI Malahayati, satu dari tiga fregat berpeluru kendali MM-38 Exocet kelas Fatahillah. Bahkan lukisannya diabadikan di museum kapal selam surabaya. di Pun demikian, entah kenapa tak banyak yang mengenal namanya. “Siapa sih Malahayati itu?” begitu sering kita dengar. Hanya ada jawaban, “Oh, dia itu Laksamana“.

Nama Keumalahayati atau Malahayati mudah ditemukan di literatur barat maupun China. Di Indonesia, dia memang tidak sepopuler Cut Nyak Dien, namun oleh peneliti barat, Malahayati disejajarkan dengan Semiramis, Permaisuri Raja Babilon dan Katherina II, Kaisar Rusia.

Laksamana Malahayati …. grande dame (perempuan yang agung). Pahlawan emansipasi yang terlupakan.




SUMBER: http://ndobos.com/archives/133id.wikiped...Malahayati

Jumat, 25 Juni 2010

AKHWAT FACEBOOKIYYAH


Dulu aku mengenalmu,
Sejak pertama komentar di statusmu,
Lalu kau balik komentar di statusku
Semua interaksi yang terkesan biasa
komentar yang semua biasa.

Suatu hari aku tersentak kaget,
Dengan statusmu yang sama dengan statusku,

Di wall mu dan di wall ku tertulis:
“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`” (QS. Al-Baqarah:75)

Aku lagsung koment, bilang kalau status kita sama,
Kau tampak biasa, aku pun sama

Beberapa hari berikutnya
Di wall ku tertulis:
“Kebajikan itu ialah akhlak yang baik dan dosa itu ialah sesuatu yang merisaukan dirimu dan kamu tidak senang bila diketahui orang lain. (HR. Muslim)”

Kau langsung koment, status kita sama lagi,
Beberapa kali berikutnya begitu
Lagi dan lagi
Dan bukan hanya sekali dua kali

---------------------------------------------

Semakin lama kita semakin dekat
Interaksi seakan begitu padat
Dari situ aku mulai terpikat
Betapa hati ini seakan terikat


------------------------------------------
Yang begitu membuatku semakin kaget
Pada hari itu,
Handphoneku berdering, dari no. tanpa nama
Aku angkat…
Salam dari Suara ujung sana terdengar
Suara seorang ibu.

“Assalamu’alaikum.. Nak”,
“wa’alaikumsalam Bu,”

“Koq, suaramu seperti seorang perempuan Nak?”
“Aku memang perempuan Bu,”

Belakangan baru aku ketahui,
Bahwa itu Ibumu,
Yang nyasar ingin menelponmu
Tapi malah sambung ke no.ku

No. HP kita ternyata hanya berbeda satu angka,
Dan itu membuat ibumu nyasar menelponku.

Tidak tahu, apakah ini hanya kebetulan semata?
-----------------------------------
Sejak itu, obrolan berlanjut via HP.

Bercanda,
Berkenalan,
Aktifitas apa?
Kuliah di mana?
Jurusan apa?
Semester berapa?
Dan lain-lain..

.

Lagi - lagi aku terkesima
Jurusan kita ternyata sama

Aku semakin Tak mengerti, apakah ini masih di anggap kebetulan semata?
----------------------------
Beberapa hari berselang
Kau mulai mengurangi ritme interaksi kita
Aku tidak paham
Kau pun mulai diam
--------------------------------
Dalam perjalananku pulang kampung waktu itu
Malam ku sendiri tak terlelap
Dalam kereta,
Aku mencoba membuka akunmu

Tak bisa terbuka,
Ternyata kau meremove ku
Aku menangis,
Aku pun risau,
Apakah salah ku?
Mencoba untuk tetap tenang dalam tidurku

Mimpi…mimpi…
Mimpi yang membuatku bangun seketika
Di tengah malam itu



Perasaanku semakin tak enak,
Gemetar tubuhku,
mengetik SMS untukmu,
ku awali menanyakan sujud mu malam ini?
Dan menanyakan
Apa alasanmu meremove akunku?

Ku tunggu balasanmu
Tak ada

Akupun mendesak mu
Tolong dibalas
Agar aku bisa tenang
Agar aku bisa kembali bermimpi



-----------------------------

Cahaya pagi mulai menyapa
Menembus sela-sela ruang yang menerpa
Kau membalas SMS itu,
Kau bilang tidak ada apa-apa

Kau meminta ku
Untuk SMS seperlunya
Tanpa canda,
Tanpa sia-sia,
Tanpa ada kata percuma,

Waktu pun ikut berbicara
Tidak juga di atas jam 9 malam,
Tidak dini hari,
Tidak usah mengingatkan Sujud malammu

Kau bilang takut menimbulkan fitnah
termasuk untuk menetralisir perasaan
dan untuk meremove ku dari fikiranmu.



Aku sepakat dengan syaratmu.
Aku pun menangis sejadi-jadinya,
Ternayata selama ini aku begitu,



-------------------

Semua Akun FB ku, kau blokir
No.HP mu kau ganti
Semua celah kau tutup rapat

Tak ada komunikasi
Tak ada lagi interaksi

Aku memilih sepi,
memilih sendiri,
Sepi dalam tangisan mata
Sendiri dalam linangan gerimis jiwa



Tangisan tak tertahankan
Di sepertiga malam terkahir
Aku memohon ampunan
Ya Ghofar
Ya Syahiid

Ampuni Hamba-Mu ini
Saksikanlah gemuruh pengharapan
Pengampunan atas segala dosa

--------------------------

Wahai kau yang ada disana
Kini Aku akan menikah

Di hari pernikahanku nanti
Aku ingin kau datang
Sebagai penenang hatiku
Bahwa kau telah bahagia



Jika semua berjalan sesuai rencanamu
Seharusnya kau sudah menikah di bulan Syawal tahun lalu
Di bulan sebelumnya aku pernah menunggu
Menuggu akan ada telepon lagi dari ibumu
Tapi bukan karena nyasar
Tapi menunggu kabar dari ibumu
Bahwa kau kan melamarku

Tapi ternyata tidak
Hampa
Kosong
Tak bertuan

----------------------

Aku tahu,
Aku memang tidak pantas untukmu
Aku yang pernah mengotori hatimu
Maafkan aku

Karena kau pernah bilang :
“jika menginginkan sesuatu yang suci, maka harus di tempuh dengan jalan yang suci pula”

Wahai kau yang ada disana
Aku memang tidak pantas untukmu

Terimakasih atas semua

Kau lebih pantas dengan yang lebih terjaga juga

----------------------------


Kini Aku akan menikah

Menikah dengan orang yang belum pernah aku kenal sebelumnya
Semua aku serahkan pada kakak laki-laki tertuaku
Tanpa Ta’aruf
Tanpa Nazhar

Aku percaya pada kakakku untuk memilih yang terbaik untukku

Sejak kejadian itu
Aku putuskan semua interaksi dengan lawan jenis
Aku menjadi terlalu sensitife dengan mereka

Karena kau pernah bilang
“seorang yang mengaku dirinya hamba, tidak akan mengulangi kesalahan berulang-ulang kali”

-----------------------

Kini Aku Akan Menikah…

Maafkan aku menulis begini
Kau tak lagi mungkin membaca catatanku ini,
karena ternyata blokir lebih kejam dari remove
Dan memang bukan itu yang kuharapkan..



Ku hanya ingin mengingatkan pada yang lain,
sebagai pelajaran untuk semua
Just It..

---------------------------

karena Aku Akan Menikah




-----------selesai penukilan--------------

Komentar saya:

Inilah bahaya facebook dan internet secara umum. Hendaknya kita menjaga diri kita dari segala pintu fitnah.



Hati-hatilah dengan akhwat facebookiyyah.

Karena..

Barangkali Kau bisa mendapatkan istri dari sana...
Namun istrimu menyimpan laki-laki lain di hatinya....
Yaitu laki-laki yang pernah ada di friendlist facebooknya.....




Maka, jika kau tidak ingin seperti itu...
Hendaknya kita pun juga menjaga diri kita....
Dengan tidak bermudah-mudahan dengan lawan jenis....
Jangan latih diri kita tuk mengkhianati kekasih kita....
Dengan FB-an pada Wanita yang bukan mahram kita...



karena...

al-jazaa'u min jinsi al'amali....



hati-hatilah dengan kata-kata "bersayap"...
yang mungkin kita kontarkan....
atau akhwat lontarkan kepada kita...

Kata-kata saudari kita di atas adalah kata-kata "bersayap"....
yaitu kata-kata yang mengatakan "pergilah",
tetapi orang yang ditujunya akan membacanya "datanglah"...
Yang sebenarnya kita pun malu mambacanya....



Maka, seorang muslim yang baik adalah yang menjauhi fitnah yang merusak....
Ia tidak terlena dengan untaian kata-kata wanita....
tetapi terlena dengan kalamullah dan kalam nabi-Nya...

Ini Tulisan Panjang Amir ya ^_^, Afwan
Sumber:myquran

Kamis, 10 Juni 2010

Benarkah millatfacebook buatan pakistan???







“ teman- teman semua, hapus akun FB kita, saatnya hijrah ke MFB (MillatFacebook), yang di buat oleh pemuda Pakistan untuk umat Islam”

Begitulah potongan pesan yang kuterima pagi ini,. Awalnya bingung, apa maksud SMS dari temanku itu. Setelah dapat signal Wifi di STIS AL AZHAR MAKASSAR, kubuka akun facebook-ku. Mungkinkah ini seruan meninggalkan FB sehubungan dengan kasus Kapal Mavi Marmara?
Tak lama kemudian, aku cek inbox FB, ternyata ada pesan serupa.
“ Assalamu'alaikum... Saya mengajak teman2 yg tergabung dalam Grup ini, membuat akun di MFB, jejaring sosial yg ditemukan oleh Sodara kita seorang Muslim dari Pakistan, karena seperti yg kita tahu bahwa facebook adalah jejaring sosial buatan Yahudi...”

Ehm… tunggu dulu…..
Sebelum menghapus akun FB, kucoba mengunjungi situs yang dimaksud. Sepertinya servernya belum maksimal, masih lambat loading. Segera kutinggalkan tanpa membuat akun di sana.

Apa benar, itu situs jejaring sosial buatan pemuda muslim?

Teman- teman yang mengirimiku pesan juga tak bisa memberikan data yang valid, minimal data diri pembuat situs tersebut.

Tanpa berpikir panjang, otakku beraksi. Akan kucoba cari tahu tentang situs tersebut, dengan cara paling sederhana, melakukan Proof of Concept dengan melakukan penetrasi terhadap server nya. Metode yang digunakan, DNS Locator, IP viewer location dan comment ping dari cmd.

Pertama, untuk millatfacebook.com (double L) yang katanya dari Pakistan

Ini hasilnya setelah ping dari cmd :

Microsoft Windows [Version 6.1.7600]
Copyright (c) 2009 Microsoft Corporation. All rights reserved.
C:\Users\Free Palestine>ping millatfacebook.com
Pinging millatfacebook.com [204.61.223.84] with 32 bytes of data:
Reply from 204.61.223.84: bytes=32 time=383ms TTL=47
Reply from 204.61.223.84: bytes=32 time=379ms TTL=47
Ping statistics for 204.61.223.84:
Packets: Sent = 2, Received = 2, Lost = 0 (0% loss),
Approximate round trip times in milli-seconds:
Minimum = 379ms, Maximum = 383ms, Average = 381ms
Control-C
^C
C:\Users\Free Palestine>

Dari sini didapatkan IP Address: 204.61.223.84

Lalu, metode selanjutnya, dengan melakukan trace pada IP Addres tersebut. Bagaimana caranya? Bisa teman- teman coba memasukkan IP Addres nya disini
Dan berikut hasilnya:

IP Address: 204.61.223.84
Hostname: node-lb0.millatbook.com
IP Country: United States
IP Country Code: USA
IP Continent: North America
IP Region: Texas
Guessed City: Friendswood
IP Latitude: 29.5141
IP Longitude: -95.1903
Organization: Lakota Data Center LLC
ISP Provider: Lakota Data Center LLC

Kedua, dengan metode yang sama, untuk milatfacebook.com / joinpk.com (L nya satu)

Berikut hasilnya :

IP Address: 64.202.189.170
Hostname: pwfwd-v01.prod.mesa1.secureserver.net
IP Country: United States
IP Country Code: USA
IP Continent: North America
IP Region: Arizona
Guessed City: Scottsdal
IP Latitude: 33.6119
IP Longitude: -111.8907
Organization: GoDaddy.com
ISP Provider: GoDaddy.com


Ketiga, sebagai perbandingan, situs asli facebook.com (milik mark zuckerberg)

Berikut hasilnya :

IP Address: 69.63.189.16
Hostname: www-11-01-ash2.facebook.com
IP Country: United States
IP Country Code: USA
IP Continent: North America
IP Region: California
Guessed City: Palo Alto
IP Latitude: 37.4429
IP Longitude: -122.1514
Organization: Facebook
ISP Provider: Facebook

BAGAIMANA ? MASIH PERCAYA MILLATFACEBOOK BERASAL DARI PAKISTAN ?
SAMPAI SEKARANG PUN SAYA TIDAK TAHU SIAPA YANG MENDIRIKAN, SAYA HANYA TAHU BAHWA ITU SERVERNYA ADA DI AMERIKA, HANYA BEDA NEGARA BAGIAN DAN BOLEH JADI MILIK SATU PERUSAHAAN YANG SAMA DENGAN FACEBOOK (bingung mode: On )

Oh iya, Indonesia juga punya jejaring sosial loh, namanya KOPROL.
BENARKAH PUNYA INDONESIA ? Kita lihat hasilnya

IP Address: 180.233.199.240
Hostname: 180.233.199.240
IP Country: Korea, Republic of
IP Country Code: KOR
IP Continent: Asia
IP Region:
Guessed City:
IP Latitude: 37
IP Longitude: 127.5
Organization:

Hmmm….. situs jejaring sosial koprol.com ternyata servernya bukan di Indonesia, tapi di Republik Korea.

Ini contohnya untuk site yang memang berasal dari negara kita, INDONESIA. Saya ambil contoh situs koran Republika
Hasilnya memang benar berasal dari Indonesia, ternyata IP Locator nya benar.

IP Address: 118.82.8.132
Hostname: 118.82.8.132
IP Country: Indonesia
IP Country Code: IDN
IP Continent: Asia
IP Region: Jakarta Raya
Guessed City: Jakarta
IP Latitude: -6.1744
IP Longitude: 106.8294
Organization: PT. Digital Wireless Indonesia
ISP Provider: PT. Digital Wireless Indonesia

TRUS, SOLUSINYA SEPERTI APA ?

Mungkin sebaiknya kosongkan info profil FB, MFB, apapun situsnya terutama aktivitas organisasi kita. CIA dan Mossad sedang gencar mengumpulkan data-data peribadi untuk kemudian dipetakan. Kita tidak tahu apa yang akan mereka lakukan selanjutnya."

Semoga info ini bermanfaat.



NB: Untuk millatfacebook.com ternyata nggak punya hosting sendiri, tapi beli di Lakota Data Center, LLC, Perusahaan web hosting punya Amerika, tepatnya di Texas.. (sama aja bohong, kalaupun buatan orang Pakistan, databasenya juga masuk ke Amerika)

update tanggal 10 Juni 2010 Pkl. 15.01 WITA:
Cara paling mudah mengetahui IP Address dan lokasi website, kunjungi http://www.domainwhitepages.com/ dan masukkan alamat situs atau website.

WARNING: Info menarik, dari pada browsing di google tentang video mesum artis mendingan luangkan waktu untuk membaca info di http://tinyurl.com/infokeren2010


Ini hanya trik sederhana untuk mengetahui Negara asal penyedia situs tersebut. Percaya atau tidak, itu tergantung teman- teman.


Sebelum teman- teman meninggalkan blog ini, mohon komentarnya dan setelah itu silahkan baca bonus info untuk teman- teman, silahkan klik di sini

Happy Blogging !!!

Cyber Moslem07


by : http://diaryaktivis.blogspot.com

Sabtu, 29 Mei 2010

Matinya Aktivis Di Tangan Finansial

by: Lia muliana rozana

Sering kita temukan banyaknya aktivis yang bergerak di berbagai bidang. Ketika kita lihat sepak terjangnya di dunia dakwah, dengan analisanya terhadap sebuah permasalahan, kemampuannya dalam melobi hingga kerja dakwah menjadi sedemikian lancarnya, sehingga segala prediket menempel di pundaknya. Semua orang bertepuk tangan bangga padanya. Orator handal, motivator dahsyat dan tetek bengek lainnya. Setiap dia bertemu dengan orang tidak ada yang mengenalnya. Bahkan siapa yang pernah bersalaman dengannya, kenal dengannya, atau dikenal olehnya menjadi begitu bangga. Bangga dikenal oleh seorang yang terkenal.
Di bidang akademik, mungkin dia bukanlah orang yang menonjol, namun karena sikapnya yang supel dan menyenangkan menjadikannya orang yang terkenal juga. Banyak dosen yang senang karena daya analisa dan kekritisannya.
Pokoknya dengan seabrek-abrek aktivitas tak membuatnya kendor. Bahkan dalam jenjang amanah, mungkin dia termasuk orang yang mengalami percepatan. Cepat diperhitungkan, cepat diberi amanah dengan jabatan lumayan berat, cepat segala-galanya.
Dari segi ruhiyah, mungkin dia adalah orang bisa dianggap terjaga. Qiyaumul lail hampir tak pernah dilewatkannya. Shalat-shalat sunnah lainnya jarang tidak dilaksanakannya, meskipun dengan alasan apapun, tetap diusahakannya.
Intinya, dia secara kasat mata adalah orang yang sangat dijadikan contoh dan tauladan dan menjadi profil idola bagi banyak aktivis lain. Menjadi tokoh dakwah yang cukup diperhitungkan karna kerja dakwahnya. Semua waktunya benar-benar dipersembahkan untuk dakwah semata.
Alhasil, semakin banyaklah amanah yang sampai kepadanya, yang tak ingin dan tak mungkin ditolaknya. Bahkan, ada seorang ikhwan pemuja beliau berkata, jika ada yang akan keluar dari wajihah dakwah ini, maka dia adalah orang yang terakhir melakukannya. Begitu besar kepercayaan yang ditimbulkannya di hati para da'i yang lain.
Namun lambat laun, namanya mulai hilang dari peredaran. Amanah yang sedang diembannya, sedikit demi sedikit ditinggalkannya. Rapat-rapat yang sering menjadi makanannya sehari-hari mulai jarang dimakannya. Mungkin karna kehilangan nafsu makan kali ya, semua orang jadi kebingungan. Kemana perginya sang idola di kampus juga lama tak kelihatan. Aktivitasnya di lembaga luar kampus pun sudah lama di tinggalkannya. Semua orang kehilangan.. semuanya kecewa..terutama para aktivis yang berhasil di kadernya.
Usut punya usut, terdengarlah kabar kalau si akhi punya kendala finansial. Keuangan yang menyebabkannya memilih untuk tidak melanjutkan aktivitas dakwahnya dan mulai berkarya untuk maisyah.. memilih menjauh dari komunitas yang akrab dengannya selama ini.. memilih untuk menutupi permasalahannya dan menghindar dari orang-orang yang begitu menyayanginya.
Mungkin fenomena di atas, tidak sekali dua kali kita dengar dan lihat sendiri. Bisa jadi kita adalah salah satu orang yang sedang mengalaminya, atau sahabat terdekat kita yang sedang mengalaminya.
Terkadang, kita salah dalam mengartikan kata aktivis. Apakah aktivis itu melulu orang yang mampu berperan di lembaga dakwah, bersedia mengorbankan harta, benda dan raganya hanya untuk lembaga tersebut? Apakah aktivis itu adalah orang hanya melulu memikirkan masalah ummat dan mengabaikan masalah dirinya?
Apakah aktivis merupakan sosok lilin yang akan menerangi orang di sekitarnya namun membakar habis dirinya dan akhirnya hilang tak berbekas?
Apakah aktivis itu adalah seorang manusia berbadan tivis, kantong tivis, IPK tivis...

Tidak!!! justru aktivis merupakan seorang yang memiliki keahlian lebih dibanding 'manusia biasa'.
Justru aktivis merupakan seorang yang memiliki inovasi dan kreativitas lebih tinggi untuk menjadi 'pencipta' sesuatu, bukan pengisi yang sudah ada.
Memiliki kemampuan 'menciptakan' bukan malah menjadi pesuruh dari suatu lembaga atau organisasi finansial.
Justru seharusnya dialah trendsetter, bukan follower...

itulah aktivis sejati...
dialah lampu penerang, bukan sekedar lilin. melainkan lampu yang memiliki asupan energi yang selalu membuatnya terang dan menerangi..

aktivis seperti apakah ukhti atau akhi???? Sanggupkah antum wa antunna syahid justru bukan di medan pertempuran, tapi justru di tangan finansial..
Bukankah Allah menyukai muslim yang kuat???
Kuat fisik, kuat finansial, kuat dalam arti kemanusiaannya...

Selasa, 27 April 2010

Arti Perbedaan






Bila saya bercermin, maka saya berkeyakinan bahwa orang yang benar-benar menyerupai saya adalah orang yang berada di balik cermin tersebut. Orang itu memiliki apa yang saya miliki. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lebih dari itu warna dan bentuknya disetiap bagian tubuh saya sama dengan yang dia miliki. Bahkan ketika saya memakai pakaian, bentuk dan warna pakaian yang saya kenakan juga sama dengan yang dia kenakan.

Tetapi saya tidak hanya hidup di dalam sebuah kamar. Saya juga tidak hanya berinteraksi dengan bayangan saya di dalam cermin. Karena begitu keluar, akan saya temukan banyak orang-orang yang jauh berbeda dengan saya. Mulai dari jenis kelamin, usia, bentuk tubuh dan anggotanya, tinggi dan berat badan, warna kulit, warna dan bentuk ranmbut, pekerjaan, pendidikan, latar belakang budaya, pola pikir, karakter, serta entah apa lagi perbedaan yang ada. Rasanya saya tidak bisa menyebutkan semua perbedaan tersebut.

Namun demikian, di antara perbedaan yang ada, tentu saja ada kesamaan yang juga dimiliki saya dengan orang-orang di sekitar saya, juga dengan orang-orang yang berinteraksi dengan saya. Sebagai contoh, di ruangan kerja saya, ada kesamaan di antara orang-orangnya, kesamaan dalam hal tujuan yang akan diraih bersama, kesamaan bahwa kami bekerja di bawah departemen yang sama, kesamaan bahwa kami pernah mengikuti sebuah diklat yang sama, dan kesamaan-kesamaan lainnya.

Lantas apa ada yang salah dengan perbedaan tersebut? Bukankah Allah jua yang menciptakan manusia itu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, lengkap dengan aneka perbedaannya?

Mungkin Anda pernah melihat sebuah pemandangan di gunung, di danau, di pantai atau tempat wisata lainnya, baik secara langsung mauapun melalui layar kaca. Anda bisa menyaksikan bahwa keindahan itu terjadi karena sekian banyak flora dan fauna yang ada. Sekian jenis flora dan fauna itu, dengan berbagai jenis, bentuk dan ukuran, membentuk suatu ekosistem yang indah. Kalau saja, setiap jenis flora dan fauna itu dipisahkan pada tempat yang berbeda-beda, mungkin saja nilai keindahannya akan berkurang, atau bahkan tak akan lagi menyimpan keindahan.

Pelangi. Fenomena alam yang akan dapat kita lihat tatkala hujan mulai reda. Indah bukan? Saya berpikir bahwa keindahan pelangi itu karena adanya warna-warna yang berbeda yang mau berdampingan satu sama lain. Bila saja hanya ada satu warna yang ada, tidak akan indah, dan namanya tentu saja bukan pelangi lagi. Entah apa namanya, saya pun tidak tahu.

Dari sekian banyak perbedaan tentu saja akan ada persamaan. Sayangnya kita sering terlalu membesar-besarkan pebedaan yang kecil. Mungkin karena sekarang sudah ada alat yang canggih, seperti mikroskop yang mampu melihat benda-benda renik terlihat besar, maka kita juga ikut-ikutan latah. Lantas kita melihat perbedaan yang kecil itu dengan sebuah miksroskop, terlihatlah perbedaan itu berukuran raksasa, dan pada akhirnya perbedaan itu terus-menerus dipersoalkan dengan mengesampingkan berbagai kesamaan yang memang sudah jelas di depan mata.

Perbedaan itu merupakan suatu keniscayaan
Dari 'sananya' ia dilahirkan
Semuanya tergantung cara kita memberikan pandangan
Bila ia sebagai suatu masalah, maka ia takan pernah terpecahkan
Bila ia sebagai suatu anugerah, maka niscaya ia hadir dalam keindahan


Aku mengamati semua sahabat, dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada menjaga lidah. Saya memikirkan tentang semua pakaian, tetapi tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada takwa. Aku merenungkan tentang segala jenis amal baik, namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada memberi nasihat baik. Aku mencari segala bentuk rezki, tapi tidak menemukan rezki yang lebih baik daripada sabar.
Khalifah 'Umar)

Selasa, 13 April 2010

Jumat, 02 April 2010

Menjadi Aktivis Minimalis



Santai memang dibolehkan, agar jasad, akal dan jiwa ini bisa menyerap kembali serpihan energy yang ia butuhkan, sehingga keringkihan elemen-elemen tubuh seorang insan bisa kembali tersegarkan. Oleh sebab itu pulalah, menikmati kesantaian bukanlah sesuatu yang diajarkan agama ini. Maka, rehat dan bersantailah seperlunya saja, dan jangan pernah nyaman dan berasyik masyuk dengan kesantaian.

Ketika cita-cita yang kita inginkan adalah untuk menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi alam semesta ini, maka logikanya tentu bekal yang mesti kita siapkan setidaknya juga sebesar alam dan seisinya ini, sekiranya tidak mungkin untuk lebih besar dari itu.

Kini, ekspansi dakwah bagi semesta alam yang terus bergulir disadari menuntut keseimbangan bekal dari para pengusung amanah dakwah ini. Jika tidak, kita khawatir kalau kemandegan, stagnasi atau antiklimaks akan menerpa perjalanan panjang dakwah ini.

Akhir-akhir ini, kejenuhan mulai melanda para aktivis dakwah. Kejenuhan yang salah satunya muncul akibat semakin berkurangnya bekal para du’at, sementara di sisi lain beban terus bertambah. Modal-modal dasar seorang aktivis semakin tak tertunaikan akibat lemahnya manajemen waktu para aktivis dakwah yang kini lebih cendrung hanya memenuhi penunaian akan tugas dakwah mereka.

Padahal, ibarat proses bernafas, kita merasakan langsung bagaimana kita menghirup udara, mengumpulkannya sejenak dan melepaskannya serta kembali menghirupnya. Hal itu berjalan laksana irama nan begitu indah.

semestinya dalam menjalani aktivitas dakwah kita juga demikian. Proses menyerap energy, mengumpulkannya dan melepasnya mesti berjalan secara sinergi. Jika itu terjadi, Insyaallah kita tidak akan merasa kelelahan, walau pada aspek kemanusiaan, lelah itu tetaplah ada. Adalah sesuatu yang tidak mungkin jika kita hanya menyerap energy saja sementara tidak pernah digunakan. Dan juga tidak akan mungkin kalau kita hanya melepaskan energy saja dalam bentuk aktivitas dakwah, tapi proses penyerapan dan pengumpulan energy tidak kita lakukan. Maka tidak heran, manakala kita berasyik masyuk melepas energy dalam dakwah, sementara tak ada penyerapan kembali, yang kita dapati adalah kelelahan, kejenuhan akibat tidak seimbangnya perputaran energy kita.

Oleh karena itulah dalam fenomena hari ini semakin banyak kita temukan diri kita para aktivis dakwah yang secara perlahan dan tidak disadari menjadi aktivis dakwah minimalis. Ada yang minimal dalam hal amal dakwahnya dan ada pula yang minimal dalam pemenuhan bekal seorang aktivis dakwah, bahkan ada pula yang melanda kedua sisinya, amal dan bekal yang sama-sama minimalis.

Dalam perenungan kita barangkali bisa dirasakan, konsistensi amal yaumiyah kita saja, yang menjadi salah satu bekal bagi para aktivis dakwah, kini semakin minimal kita lakukan. Alih-alih terpenuhi standar minimalnya, bahkan tak jarang kita temukan diri kita hanya sekedar memenuhi jawaban kalau hal itu sudah kita lakukan.

Sudah mulai kita temukan aktivis dakwah yang terjerat kemalasan untuk melakukan shalat di awal waktu, apalagi shalat berjamaah. Kalaupun tetap berjamaah, tapi mulai muncul kemalasan untuk pergi ke mesjid. Qiroaah Quran pun semakin berkurang. Dari standar satu juz perlahan barangkali turun menjadi setengah juz, seperempat juz atau bisa jadi beberapa ayat saja sebagai pemenuhan syarat sudah membaca Al-quran pada hari bersangkutan. Alma’tsurat kurang lebih juga sama, berjalan beriringan. Dari dua kali sehari, pagi dan petang menjadi satu kali saja. Dari sekali setiap hari turun menjadi tiga atau lima kali seminggu. Dari pengulangan tiga-tiga kali turun menjadi sekali lalu saja. Hal itu seolah berjalan turun dengan keteraturan yang terkadang tanpa disadari.

Aspek ibadah lain pun menemukan hal yang tidak jauh berbeda. Shalat sunat dhuha misalnya, dari setiap hari secara disiplin ditunaikan, perlahan turun menjadi beberapa kali saja dalam seminggu. Setelah mengalami secara kuantitas penurunan kualitaspun mengiringi. Rakaatnya menurun, doa dan zikirnya pun menurun. Bahkan tidak jarang pula hanya sekedar memenuhi “absensi” saja, shalat dua rakaat minus zikir dan doa.

Puasa sunnah seperti Senin Kamis juga mengalami hal serupa. Puasa pertengahan bulan pun mulai terlupakan dengan berbagai kesibukan. Alasannya tidak zahur atau kesibukan yang membutuhkan energy full tanpa puasa.

Belum cukup sampai di situ, ibadah pamungkas seperti qiyamul lail pun kian sepi bersama nyenyak lelap di dingin malam. Mata kian berat untuk bangkit dari tidur di malam hari, meski pun sejenak kita sempat tersintak dari lelap kita di sepertiga malam.

Parahnya lagi, kita juga mencari-cari alasan untuk memaklumi kondisi itu. Alasan kesibukan kerja yang membuat kita sulit shalat di awal waktu apalagi berjamaah ke mesjid. Alasan padatnya agenda dakwah yang membuat kita seolah tidak memiliki waktu untuk membaca alquran sebagaimana biasanya. Atau kesibukan yang tak terputus hingga pagi dan sore hari yang membuat kita sulit untuk membaca almaktsurat. Atau bisa jadi kepenatan yang tak berkesudahan yang membuat kita berat untuk bangkit dari tidur di sepertiga malam. Atau alasan lain yang sangat mungkin dicarikan atau dialaskan.

Inilah problema dakwah yang kita harapkan mampu membuka mata hati kita. Karena kita meyakini bahwa problema ini sedikitpun tidaklah diinginkan tapi tetap berpotensi untuk tumbuh subur karena belum ada ketegasan dari para aktivis dakwah untuk keluar dari sana.

Ketika tulisan ini ditulis dan dibaca, tentu kita tidak sedang meratapi atau menyalahkan kondisi ini. Kita tidak sedang manghujat kondisi ini dengan memutar memory dalam nostalgia indah. Kita juga tidak ingin terjebak dengan nostalgia bahwa dulu sangat begini dan begitu, yang pada intinya dulu fenomena seperti di atas sangatlah langka, dan yang banyak itu hanyalah fenomena dimana kita memiliki konsistensi dan disiplin yang kuat dalam menjalankan amalan-amalan penting seorang aktivis dakwah.

Tidak, sekali lagi kita tidak sedang berbicara tentang itu. Kita hanya ingin jujur membaca realitas dakwah hari ini dan kemudian menegaskan kembali, bahwa kerja besar ini juga membutuhkan energy besar. Cita-cita besar dakwah ini perlu ditopang oleh amunisi yang jauh lebih besar dari cita-cita itu. Dan kita harus selalu menjaga bagaimana energy dan amunisi besar itu tetap tersedia dengan konsistensi kita menyalakan reaktor-reaktor yang ada di dalam diri dan lingkungan sekitar kita. Itu saja.

Jadi, biarlah cita-cita dakwah ini terus menari bersama irama gerakan dakwah yang semakin menemukan keragaman corak dan medannya. Biarlah tantangan dakwah dan godaan yang ada di dalamnya menjadi simpony yang akan menyejukkan sekaligus mengokohkan hati-hati kita. Pada akhirnya, konsistensi kesholehan, doa, ikhtiar dan kesungguhan kita jualah yang akan membuat dakwah ini tetap ada di bumi dimana kita berada. Karena itu pulalah kita tidak ingin menjadi aktivis minimalis. Wallahu’alam.


by: mamanto fani

Sabtu, 27 Maret 2010

Mulia Di Akhirat & Meraih Dunia dengan Ilmu



”Hidup bahagia,mati masuk syurga” yup,pasti setiap orang ingin seperti itu.Jadi apa yang dapat kita lakukan untuk mewujudkannya?

Allah Ta’ala telah mengajarkan sebuah doa dalam firmanNya:

”Wahai Rabb kami,berilah kami kebaikan di dunia, dan kebaikan di akhirat” (QS.Al-Baqarah : 201)

Al-Hasan rahimahullah (wafat th. 110 H) berkata, ”Yang dimaksud kebaikan dunia adalah ilmu dan ibadah, dan kebaikan akhirat adalah Syurga ”Sedangkan Ibnu Wahb (wafat th.197 H) rahimahullah berkata, ”Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata ”Kebaikan di dunia adalah rizki yang baik dan ilmu, sedangkan kebaikan di akhirat adalah syurga”


Perhatikanlah bagaimana para ulama memegang ilmu sebagai sumber kebaikan di dunia,yang dengannya dapat diraih pula kebaikan di akhirat berupa syurga.Karena itu, hal utama yang harus kita lakukan untuk mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan terus menerus mengejar ilmu dengan mengikhlaskan niat karena Allah Ta’ala.Ilmu yang dimaksud adlah ilmu yang bermanfaat.

Imam Ibnu Rajab (wafat th.795 H) rahimahullah mengatakan bahwa ”Ilmu yang bermanfaat menunjukkan pada dua hal : Pertama,mengenal Allah Ta’ala dan segala pa yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan-perbuatan yang agung. Hal ini mengharuskaan adanya pengagungan, rasa takut,cinta,harap,dan tawakkal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan segala musibah yang Allah Ta’ala berikan.

Kedua, mengetahui segala apa yang dibenci dan dicintai Allah Azza wa Jalla dan menjauhi apa yang dibenci dan dimurkai olehNya berupa keyakinan, perbuatan yang lahir dan bathin. Hal ini emengharuskan orang yang mengetahuinya untukbersegera melakukan segala apa yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Ta’ala dan menjauhi segala apa yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan kedua hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat.

Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap dalam hati maka sungguh, hati itu akan tunduk dan meras patuh pada Allah Azza wa Jalla, jiwa merasa cukup dan puas dengan sedikit dari keuntungan dunia yang halal dan merasa kenyang dengannya sehingga hal itu menjadikannya qanaah dan zuhud di dunia.”

Rasululah Salallahu Allaihi Wasallam mendoakan orang-orang yang mendengarkan sabda beliau dan memahaminya dengan keindahan dan berserinya wajah. Beliau bersabda :

”Semoga Allah memberikan cahaya pada wajah orang yang mendengarkan sebuah hadist dari kami, lalu menghafalkannya dan menyampaikannya kepada orang lain. Banyak orang yang membawa fiqih namun dia tidak memahami. Dan banyak orang yang menerangkan fiqih pada orang yang lebih faham darinya. Ada tiga hal yang tidak dapat dpungkiri hati seorang muslim selama-lamanya: melakukan sesuatu dengan ikhlas karena Allah, menasehati ulul amri (penguasa) dan berpegang teguh pada jama’ah kaum muslimin,karena do’a mereka meliputi orang-orang ayng berada dibelakang mereka.”

Beliau bersabda,

”Barangsiapa yang keinginannya adalah negeri akhirat, Allah akan mengumpulkan kekuatannya,menjadikan kekayaan di hatinya dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. Namun barangsiapa yang niatnya mencari dunia, Allah akan mencerai-beraikan urusan dunianya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia mendapat dunia menurut apa yang tealah ditetapkan baginya.” (Hadist Shahih diriwayatkan oleh Ahmad (V/183),ad-Darimi(I/75),Ibnu Hibban (no 72,73-Mawarid),Ibnu’Abdil Barr dalam Jaami’Bayaanil’Ilmi wa Fadhlihi(I/175-176,no.184),lafazh hadist ini milik Imam Ahmad dari Abdurrahman bin Aban bin ’Utsman radhiyallahu’anhum)

Jadi, ayo semangat menuntut ilmu..!! supaya bahagia dunia dan akhirat, insyaAllah. Jangan lupa ikhlaskan niat pada Allah Subhanahu Wata’ala.

Israil bin Yunus (wafat th.160 H) rahimahullah mengatakan,

”Barangsiapa menuntut ilmu karena Allah Ta’ala, maka ia mulia dan bahagia di dunia.Dan barangsiapa menuntut ilmu bukan karena Allah, maka ia merugi di dunia dan akhirat.”

Dan diantara doa yang Rasulullah ucapkan adalah : ”Ya Allah, aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat,rizki yang halal, dan amal yang diterima.”

Wallahu’alam bishowab

Disarikan dari buku: Menuntut Ilmu Jalan Menuju Syurga, oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawaz

Rabu, 10 Maret 2010

Integrasi Politik dan Dakwah

Dulu, saat awal ketika kita belum membuat partai, sebenarnya cukup mengenakkan kalau kita menjadi gerakan dakwah yang terbatas. Berada di
lingkungan yang baik secara terus menerus, cerdas, berpendidikan tinggi, punya komitmen agama yang bagus serta lingkungan yang memberikan
kenyamanan yang luar biasa.

Tapi, waktu kita membuat partai, seakan-akan kita keluar dari comfort zone. Zona nyaman, yaitu lingkungan orang shalih sepertinya terpecah,
karena mulai dimasuki oleh orang-orang yang setengah shalih dan tidak shalih. Ruang lingkup pergaulan kita menjadi sangat luas. Sekarang kita
bertemu dengan keadaan yang mungkin tidak nyaman secara psikologis.

Politik ini memberikan kita jadwal hidup yang sangat ketat karena ada pemilu 5 tahunan. Kita selalu mengukur kinerja setiap waktu karena ada
banyak momentum. Kalau bukan kita yang mengukur kinerja kita maka orang lain yang mengukur kinerja kita. Sejak kita memutuskan untuk membuat partai, berarti kita membuka diri kita untuk diukur juga oleh orang lain. Dan itu membuat jadwal aktivitas kita menjadi sangat padat.
Sehingga kita harus belajar untuk bekerja dengan rileks dalam keadaan stress berkepanjangan. Itu salah satu pelajaran penting yang kita peroleh secara tarbawiyah setelah kita membuat partai.

Sebenarnya ada pelajaran lain, bahwa ktia harus bisa belajar berbeda pendapat secara rileks juga. Banyak pendapat, banyak ketegangan, tapi
kita harus mampu menghadapinya secara rileks.

Ikhwah sekalian.

Saya ingin menyampaikan beberapa hal untuk membangun frame kita, khususnya terkait kerja-kerja tarbiyah dalam kontek amal siyasi. Sejak harakah ini didirikan , konsep awal tentang kehidupan yang ingin kita bangun adalah sebuah kehidupan islami yang integral dan komprehensif, dengan tidak membuat pemisahan-2 antara seluruh aspeknya. Oleh karena itu , sejak awal konsep integrasi ini menyebabkan harakah ini selalu berhadapan dengan sekulerisme yang memisahkan antara politik, negara dan agama.

Kita tahu dengan baik jargon yang dibuat Imam Hasan Al-banna, bahwa islam adalah dinun wa daulah (agama dan negara) sekaligus. Jadi kita menganut konsep integrasi dari awal. Tetapi konsep integrasi ini bukan hanya ada pada integrasi antara negara dan agama saja, namun juga antara
dakwah dan politik. Itu sebabnya 10 tahun setelah Imam Hasan Al-Banna mendirikan jamaah dakwahnya, beliau langsung mendeklarasikan untuk memasuki era jahriiyah (era keterbukaan) dan ikut terlibat dalam aktivitas politik.

Sekarang tidak ada jalan bagi kita untuk menyatukan agam dan negara kecuali apabila kita mengambil bagian dalam aktivitas politik itu. Dan, sekarang ini, dalam sistem demokrasi, jalur orang untuk sampai kepada seluruh otoritas penting dalam negara hampir menjadi jalur tunggal, yaitu lewat partai politik.

Oleh karena itu, sekarang orang baru menyadari betapa besarnya peranan partai politik dalam menentukan arah kehidupan kita. Orang tidak boleh
jadi gubernur kecuali kalau di dapat mandat dari partai politik. Memang ada pemilihan langsung, tetapi yang mendaftarkan harus partai. Kemudian
memang ada calon independen, tetapi aturannya belum selesai, dan tidak benar-benar independen.

Oleh karena itu, untuk memperbesar akses harakah ke dalam negara itu jalannya cuma satu, yaitu memperbesar partai politiknya atau kendaraannya, atau kanalnya, yaitu partai politik. Apabila kanalnya besar, flow, arus yang akan masuk ke negara juga semakin besar.

Mengapa dulu birokrasi dikuasai Golkar? Ya, karena flow yang dibuatnya memang kanalnya besar. Bila kita mau masuk kesana, mesti membuat kanal
besar bagi dakwah. Mengapa selama ini harakah terpinggirkan di banyak negara? Karena tidak ada kanalnya. Oleh karena itu, saya mengatakan
bahwa lompatan pertama kita pada tahun 1999 adalah lompatan dari luar ke dalam.

Dulu kita dianggap OTB (organisasi tanpa bentuk). Antum bayangkan, orang-orang shalih yang terpilih diantara umat ini, kita memilih orang-orang shalih setengah mati, kita merekrut mereka dengan kriteria anasir taghyir (memiliki unsur perubah), kita pilih orang-orang hebat semuanya ditengah masyarakat dan kita masih dianggap sebagai orang aneh. Begitu kita membuat partai, kita melompat dari luar sistem ke dalam sistem dan itu memberikan kita banyak keleluasaan baru.

Begitu suara kita menguat pada tahun 2004, saya menyebut lompatan kedua ini sebagai lompatan eksistensi. Kita dianggap sebagai satu kekuatan
politik baru yang sangat disegani di negeri kita saat ini, karena kanal yang kita ciptakan ini makin besar. Sehingga arus orang yang masuk ke
otoritas negara itu makin banyak.

Misalnya kita lihat pada tahun 1999, akhwat kita yang ada di parlemen kita cuma satu orang, tetapi sekarang ini ada 72 orang. Artinya, di
jamaah dakwah kikta ada 72 suami yang istrinya bekerja di parlemen dan setiap hari para suami itu ditinggal istrinya. Kalau dulu kita
meninggalkan istri sekarang kita mulai ditinggalkan istri. Quota 30% masih akan terus berlaku. Tahun 2009 nanti jumlah akhwat yang masuk ke parlemen kita akan makin banyak. Lalu, kita punya 1 menteri, menteri ini membawa gerbong, bukan hanya gerbong birokrat tetapi juga gerbong
pengusaha.

Coba antum lihat, betapa banyak yang berubah begitu kanal ini membesar. Karena antum punya otoritas mencalonkan orang sebagai gubernur, maka
orang mau bayar antum semua, supaya dia jadi gubernur. Oleh karen itu, ada banyak bisnis di dalamnya, seperti aktifitas tarbiyah hari ini,
sudah mulai dikelola dengan cara bisnis. Ini sudah benar jalannya. Itu merupakan efek kanal yang kita ciptakan makin besar dan mempunyai efek
dalam menciptakan lapangan kerja baru.

Level integrai ketiga yang perlu kita waspadai karena kita belum mengenal dengan baik tabiatnya adalah integrasi aktivitas tarbawi dan
aktifitas siyasi. Ini mungkin pengaruh dari dikotomi yang sebelumnya terjadi. Padahal, dua tahun terakhir ini, ada lebih dari 200 pilkada
yang berlangsung. Itu berarti hampir per tiga hari ada satu pilkada.

Kebanyakan orang mengeluh pada dua tahun ini, bahwa pertumbuhan kader kita menjadi lambat. Bahkan, di DPP, ketika sekretariat melaporkan
pertumbuhan kader tahun lalu minus, Presiden PKS keberatan,”Kok bisa minus? Ini gak mungkin.” Padahal itu laporan dari Wilayah. Kemudian
Bidang Kaderisasi membuat evaluasi lagi di beberapa Wilayah, lalu ada pertambahan sedikit.

Setelah kita lihat, ternyata salah sebabnya adalah kebingungan mengintegrasikan pekerjaan, karena terlalu banyak pekerjaan sekaligus.
Pekerjaan ini belum dikelola dengan suatu pendekatan integrasi. Sebagai contoh, kalau orang luar melihat PKS, orang akan melihat PKS ini partai
baru, dana kecil, tapi aktivitas partainya besar. Loadnya luar biasa penuh, tidak ada kosongnya.

Semua teman-teman diluar PKS kalau bertemu saya, selalu bertanya satu hal,”Bagaimana keuangan PKS? Saya kemana mana ke daerah bertemu dengan PKS, dimana mana ada PKS. Jalan terus, begitu kerjanya tidak berhenti-berhenti. ” Ini adalah load pekerjaan yang luar biasa besarnya.

Integrasi ini terkait masalah efektifitas dan efisiensi dalam melakukan pekerjaan besar dengan usaha yang seminimal mungkin. Sebagai contoh, ada banyak aktifitas kita di internal ini sebenarnya menggunakan sangat banyak orang, sangat banyak waktu, banyak dana, juga menyentuh sangat
banyak publik. Kemudian hal ini sama sekali tidak mendapatkan liputan apa apa di media. Akan tetapi, bila dari awal kita punya pandangan yang terintegrasi maka itu akan sangat berbeda.

Contoh lain seperti aktifitas mukhayam (kemah). Antum lihat, berapa banyak tenaga yang kita keluarkan untuk aktifitas yang kita kerjakan?
Harinya panjang, jumlah pesertanya banyak, kalau dikelola dalam satu kemasan, efek pelatihan tarbawi yang diharapkan dari mukhayam itu tetap
dapat diperoleh dengan tetap mendapatkan liputan media yang luas. Tetapi ini belum kita kelola.

Kemarin coba antum bayangkan waktu kita mengubahnya di Cibubur. Berapa banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan sekaligus? Karena kita mulai mengintegrasikan. Jangan sampai nanti orang media hanya bekerja mengiklankan PKS kalau ada Muharram, kalau ada Milad atau kalau ada
Ramadhan saja, baru itu yang dinamakan aktifitas media, sedangkan aktifitas tarbawi tidak ada liputannya. Padahal sebenarnya ini justru
aktifitas yang punya nilai jual yang luar biasa bagi orang-orang luar.

Antum lihat, orang-orang yang berminat terhadap petualangan itu kan banyak. Sekarang acara petualangan di tv itu laris dan ratingnya tinggi.
Kenapa pada sisi ini sebagai partai orang muda, tidak kita jadikan kekuatan. Pesona PKS yang bisa punya daya gugah dan daya rekrut bagi
orang luar, bahwa partai ini mencanangkan suatu pola hidup yang sehat dan ingin membangun generasi muda yang kuat. Hanya dengan mengubah
sedikit cara melakukannya untuk membuat suatu happening art yang bagus, membuat suatu release yang bagus, sedikit packaging yang bagus, maka
semuanya akan berbeda hasilnya.

Antum tidak akan kehilangan sedikitpun efek tarbawiyah yang ingin kita capai apabila kita mampu mengintegrasikannya . Menurut saya, level
integrasi ketiga ini perlu dipelajari. Pilkada ini adalah salah medan uji cobanya. Waktu kita merancang strategi di DPW untuk pemenangan
Pilkada ini, dari awal saya menekankan : “Masukkan satu poin di grand strategy di DPW untuk pemenangan pilkada ini, bahwa syarat untuk memenangkan DKI Jakarta adalah dengan meningkatkan kapasitas, kinerja dan citra PKS, sebagai partai utama.”

Makin besar partai ini, makin mudah kita menyosialisasi calonnya. Kita bisa menggaransi bahwa sebab kemenangannya 70% lebih adalah oleh
jaringan ini. Oleh karena itu, jaringan ini perlu diperbesar strukturnya maupun jumlah kadernya. Implikasinya apa? Semua target kaderisasi
masukkan di target pilkada.

Jadi untuk memenangkan pilkada ini, kitta memerlukan 162 ribu kader baru untuk mencukupi angka total 200.000 kader di DKI dan dengan demikian
jika target kita adalah 2 juta suara, maka satu kader harus merekrut sepuluh suara. Insya Allah hal ini efektif untuk mencapai target itu.
Implikasi selanjutnya pada budgeting.

Antum lihat flow kegiatan itu akan lebih lancar ketika dia diintegrasikan. Sehingga manajemennya menjadi lebih sederhana, jauh lebih efektif dan efisien. Selain itu, dengan integrasi ini ada efek lanjutan, yaitu memperbesar aset kita dan kemampuan kapitalisasi kita.

Antum lihat suara partai-partai islam di Indonesia sepanjang sejarahnya tidak pernah lebih dari 45%. Artinya apa? Artinya afiliasi ideologi
orang-orang islam indonesia masih ke ideologi sekuler.

Ini artinya semua gerakan dakwah yang pernah ada di Indonesia, ternyata tidak berhasil, padahal ormas-ormas dakwah seperti Muhammadiyah, NU jauh lebih tua dari Republik Indonesia ini. Apa yang menjelaskan PAN yang lahir dari Muhammadiyah Cuma dapat segitu suara? Apa yang menjelaskan
PKB yang lahir dari NU Cuma dapat segitu suara? Bahkan kalau digabung misalnya dengan PPP tetap saja sedikit jumlah suaranya.

Artinya gerakan dakwah ini dari awal menganut pemisahan antara dakwah dan politik. akibatnya dia tidak bisa mengkapitalisasi aset-asetnya.
Bahkan sekarang kita lihat ada pendekatan yang intensif dari PDIP ke Muhammadiyah, dan dari Muhammadiyah ke PDIP.

Kendala harakah islamiyah dalam upaya menjadi partai besar , salah satunya adalah ketidakmampuan mengintegrasikan program-programnya.
Sehingga selalu ada dua arus dalam jamaah dakwah, yaitu arus orang-orang tarbawi dan arus orang-orang politik. itu tidak bagus, tidak sehat, dan tidak benar-benar manhaj. Orang-orang tarbawi mengatakan,” Sudahlah, aktifitas kita sekarang sudah terlalu banyak politik. orang-orang sudah tidak memperhatikan lagi tarbiyah.”

Jadi seharusnya kita tidak pernah menganut pemisahan seperti itu. Attarbiyun, ‘assiyasiyun. Itu semua satu pekerjaan. Semua namanya
dakwah. Semua pekerjaan ini sama untuk membangun aset kekuatan umat. Dengan mentarbiyah, kita membangun aset orang, dengan politik kita
membangun aset kekuasaan. Hal ini tidak ada yang perlu dipisah-pisahkan lagi. Tetapi di banyak negara, penyakit ini bisa membesar, seperti di
negeri kita juga. Kalau tidak segera merubahnya maka orang-orang tarbiyah akan merasa lebih nyaman, merasa hidup lebih tenang, lebih
khusyuk dan sedikit merasa lebih religius dan lebih ikhlas dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang terlalu aktif di politik. kini ada satu
gejala yang buruk dan tidak sehat dalam tarbiyah. Penting bagi kita untuk mengamatinya. Ada orang-orang yang merasa gagal di alam kenyataan, kemudian lari ke alam spiritual yang sedikit rada maya.

Dalam soal dana, misalnya, banyak orang mengatakan, “Sudahlah kita ini orang di DPR gak usah dibebankan cari dana untuk dakwah. Kita akan
melaksanakan tugas dan tinggal kontrol kita saja.” Bisa jadi bukan karena ingin lempeng saja, Cuma mereka tidak mampu cari dana, tetapi
kemudian mengcover ketidakmampuan dengan berbagai alasan. Orang-orang ini seolah-olah ingin mengatakan, bahwa jumlah barang halal jauh lebih sedikit dari jumlah barang yang haram. Logikanya adalah “Kalau yang halal itu lebih sedikit dari yang haram, terus kenapa islam menyuruh
kita kaya?”

Sebenarnya dia tidak ingin mengatakan itu. Tapi karena beberapa alasan. Pertama : dia tidak memahami manhaj dengan baik. Kedua : ada sesuatu
yang disembunyikan di hati, yaitu ketidakmampuannnya. Ini juga gejala tarbawi yang tidak sehat.

Dalam soal aktifitas tarbiyah, ada juga gejala tidak sehat dari orang-orang yang tidak punya basis tarbawi yang bagus ketika kemudian
terjun ke politik. ini harus diakui. Atas nama kesibukan di DPR dan DPRD dan seterusnya, akhirnya dia banyak ghaib di liqo’ pertemuan rutin
kader, tidak lagi mentarbiyah, akhirnya secara ruhiyah dia kering dan semuanya kering. Hal itu kadang sebenarnya bukan karena aktifitas
politik. sebelum terlibat di dalam politik pun orang-orang seperti ini sudah kering.

Ini rada rada mirip dengan perkataan Ali bin Abi Thalib saat pasukan Muawiyah dalam perang Shiffin mengangkat mushaf mengajak perdamaian.
Susah ditolak. Orang mau damai pakai Al-quran susah ditolak, meski ada niat lain dibaliknya. Ali memahami dengan baik niat itu. Maka ia
mengatakan,” Ini adalah kata yang benar tapi tujuannya adalah kebatilan.” Jadi kita mengungkap sesuatu yang terlihat nyata, tapi sebenarnya tidak.

Kemarin Syaikh Qardhawi berdoa di Masjid Istiqlal. Ada satu isi doanya, saya baru dengar itu dan memberikan saya inspirasi. Beliau
mengatakan,” Ya Allah hindarkan ibadah-ibadah kami dari riya, hindarkan hidup kami adri tanaqudh (paradoks).” Hidup yang paradoks itu karena
hal-hal begini. Seperti kita menyembunyikan sesuatu dalam hati kita, dan kita cover dengan bungkus-bungkus yang katanya manhaji.
Pemahaman ini diperlukan oleh para manajer-manajer tarbiyah ini, agar dapat mengelola dengan baik aktifitas ini, supaya tidak ada lagi
pemisahan.
Kalau antum lihat rutbah tarbawiyah (level keanggotaan) kita, level paling bawah adalah pemula (tamhidi), diatasnya ada muayyid. Piramidanya
selalu mengecil, semakin keatas itu semakin mengecil. Jadi biasanya rasionya 1/5 atau kalau tidak 1/10. dua level paling bawah ini kita
sebut sebagai kader pendukung. Sedang kader inti ada pada 4 level keatas.

Saya ingin antum memahami falsafah manhaji pada sistem keanggotaan dalam perspektif strategy pergerakan. Anggota Madya (muntasib) konsepnya adalah orang-orang yang sudah memahami dakwah ini dengan baik, memahami islam dengan baik, berperilaku islami dan sudah terlibat dalam sebagian besar aktifitas dakwah ini dengan baik. Intisab artinya tergabung, dia mengetahui sudah bergerak dan tergabung di dalam jamaah dakwah ini.
Kemudian satu tingkat di atasnya Anggota Dewasa (muntanzhim) , yang terjemahannya artinya terstruktur. Dia bkan sekadar berada atau tidaknya
di mihwar dakwah, tapi dia sudah menjadi operator utama mihwar. Satu tingkat lagi adalah anggota ahli, lalu purna (takhassus).

Kira-kira kalau dalam hirarki militer itu ada yang takhassus ini namanya komandan, yang anggota ahli (amilin) ini namanya pasukan khusus.
Kemudian yang muntanzhim itu pasukan strategisnya, yang muayyid ke bawah yang prajuritnya. Maka lapisan terkecil dari ummat adalah takhassus.
Lapisan terluranya ada muhibbin, ada ummat dan terakhir lapisan terluarnya adalah al qaum. Semakin antun di tengah maka semakin antum
ada di titik pusat yang menentukan arah pergerakan umat.

Antum yang sudah jadi amilin sudah berada di titik pusat. Jadi dengan konsep ini, antum bisa mengetahui bahwa sebagian besar beban ini dipikul
oleh orang yang makin ke dalam. Karena beban yang akan kita pikul semakin berat, maka syarat janji setianya juga semakin berat. Bukan pada
kompetensi, tapi pada derajat atau bobot kesetiannya, karena amanah umat yang berat ini hanya orang-orang yang benar-benar setialah yang bisa
memikul beba ini. Ini adalah konsep pertama.

Konsep yang kedua, Jamaah Dakwah ini dibangun dengan 4 basis, yaitu :

1. Qaidah harakiyah (basis pergerakan), maksudnya mereka inilah yang mengoperasikan gerakan dakwah ini.
2. Qaidah fikriyah (basis pemikiran ), terdiri dari para pemikir, para perancang, para ulama dan para intelektual.
3. Qaidah siyasiyah (basis politik), terdiri pada pimpinan-pimpinan (qiyadah) pengambil keputusan dan penentu kebijakan.
4. Qaidah sya’biyah (basis massa).

Jadi kader kita ini, semuanya ada di kategori Qaidah harakiyah, Qaidah Fikriyah dan Siyasiyah. Karena itu lapisan terbawah dari dakwah adalah
umat. Dari umat ini kita merekrut orang terbaik untuk naik ke Qaidah Harakiyah, dari Qaidah Harakiyah ini kita rekrut lagi yang terbaik dan
naik ke Qaidah fikriyah. Kemudian dari qaidah fikriyah kita rekrut lagi yang terbaik untuk naik ke Qaidah Siyasiyah. Hal yang membedakan mereka
dalam level kepemimpinan biasanya adalah dalam soal wawasan.

Dari mana kita merekrut ini semuanya? Kalau kader harakiyah itu adalah kader dengan enma ruthbah tarbawiyah itu tadi, maka tentu saja Qaidah
Fikriyah dan Qaidah Siyasiyah ini diambilnya dari enam level tadi. Tentu saja Qaidah Fikriyah and Qaidah Siyasiyah itu paling mungkin diambil
dari orang yang ruthbahnya paling atas dan itu yang paling mungkin. Makanya ketua DPD sebaiknya kader inti, karena sudah dalam level Qaidah
Siyasiyah.

Ikhwah sekalian.

Kalau piramida keanggotaan kita ini tidak terisi dengan bagus, maka nanti sumber daya rekrutmen kita untuk mengirim basis-basis kepemimpinan
kita dalam umat ini tidak akan terpenhi. Tujuan kita untuk menjadi Qiyadatul ummah (pemimpin umat) ini tidak akan tercapai. Karena stoknya
tidak tersedia. Apabila stoknya tidak tersedia maka akan ada suatu ancaman. Yaitu, kalau kita mencapai keberhasilan poltik, misalnya,
tetapi tidak ada stok maka kita terpaksa melakukan transaksi dengan orang lain. Karena ada stok kompetensi yang tidak kita miliki tapi
dimiliki orang lain. Itu membahayakan kemampuan kontrol kita.

Jadi seandainya nanti kita dapat 20% dan karena itu kita mempunyai hak untuk mencalonkan Presiden dan Wakil Presiden, misalnya, dan setelah itu
kita menang, bagaimana kita mengatur negara ini?

Kalau hierarki ini tidak terpenuhi, maka dampaknya akan terjadi ketika kita mencapai lompatan-lompatan politik. kalau tidak sejalan
pertumbuhannya, maka akan menyebabkan bahaya yang besar. Itu baru tentang kontrol atas pemerintahan. Kalau kita bicara tentang kontrol
atas umat, seandainya kita mempunyai otoritas, tapi umat kita pada dasarnya belum terdakwahi dengan baik, ini juga bahaya. Dalam strategi
dakwah, kalau masuk ke alam demokrasi, begitu kita naik dan berkuasa, kita tidak mungkin langsung mengatakan,” Kita mau menerapkan sistem
Islam. Tidak begitu prosedurnya. Tetapi kita harus mengikuti prosedur demokrasi. Harus ada tuntutan dari rakyat. Kalau rakyatnya tidak
menuntut, bahkan menentang, maka kita tidak bisa mengetuk palu.

Itulah yang terjadi pada waktu Muhammad Natsir menjabat sebagai Perdana Menteri. Dia tidak bisa berbuat apa apa , karena umatnya belum siap.
Oleh karena itu, penentuan target jumlah kader itu sebenarnya berangkat dari rasio pengendalian kita atas umat. Itulah sebabnya, kenapa jumlah
kader kita harus banyak, karena jumlah penduduk umat kita di indonesia juga besar.

Berapa besar dari umat ini yang dapat dikendalikan oleh 2 juta kader? Berapa rasio pengedalian kader per umat. Misalnya Cuma 20%. Satu kader
20, misalnya. Maka kalau kita punya 2 juta suara, ternyata yang bisa kita kendalikan Cuma 40 juta umat. Itu angka yang bagus tapi tidak cukup
untuk mengcover seluruh masyarakat di negara yang sangat luas seperti Indonesia ini.

Yang namanya masyarakat islami dalam pengertian yang kuantitatif, adalah apabila jumlah orang shalihnya mencapai 50 plus 1% lebih banyak, jika
dibandingkan dengan orang-orang yang tidak shalih.
Ukuran kesalehan itu setidak-tidaknya ada 3, yaitu :

1. Memiliki afiliasi ideologi, karena itu adalah hakekat dari aqidah
2. melaksanakan semua fardhu ‘ain, khususnya Rukun Islam.
3. Meninggalkan semua dosa-dosa besar, khususnya yang bersifat pidana.

Kalau dosa menengah dan kecil itu susah. Termasuk juga untuk kader inti. Karena itu ada mekanisme pengampunan rutin untuk dosa berjalan. Seperti melalui wudhu, berjalan ke mesjid, shalat berjamaah dan lain lain. Supaya – istilah orang akuntansi – neracanya seimbang.

Jadi, sekali lagi, ini menyangkut masalah mengendalikan keshalihan umat. Itulah fungsinya jumlah kader. Oleh sebab itu mengapa kader mesti kita
angkat kualitas hidupnya jauh lebih tinggi daripada umat, karena hanya dengan itu dia mampu mengendalikan umat. Karena dengan itu dia bisa jadi
Qiyadah di tempatnya masing-masing.

Ada faktor ketiga dari rasio ini selain pengendalian negara dan pengendalian umat, yaitu apabila kita menghadapi keadaan paling buruk.
Ada satu fakta yaitu begitu kita berkuasa, ternyata kita tidak bisa bermimpi untuk langsung melakukan dan membangun ekonomi, mensejahterakan
rakyat dan seterusnya. Begitu kita berkuasa, antum akan menemui apa yang ditemui oleh saudara kita Nurmahmudi Ismail di Depok. Digoyang terus
oleh orang.

Dalam perjalanan Rasulullah, fase pertama dari Madinah adalah marhalah(fase) meneguhkan eksistensi negara. Itu sebabnya dalam rangka
menegakkan eksistensi, negara itu digoyang dari semua arah sebanyak 48 kali pertempuran dalam 5 tahun pertama. Itu sebabnya saya menemukan
fakta-fakta bahwa pembangunan ekonomi saat itu tidak ada. Saat itu, Madinah adalah satu-satunya negara yang tidak punya bendahara. Tidak ada
kas Negara di zaman Rasulullah. Tidak ada menteri keuangan bahkan tidak ada budget. Bahkan ketika kaum muslimin yang lelah berperang dan tidak
sempat mengurusi bisnisnya serta lahan pertaniannya, mereka baru mulai berpikir, “Kapan ya kita rehat dari pertempuran ini?”.

Saya menemukan hadist-hadist lain, waktu fatimah binti Muhammad melahirkan Hasan, cucu pertama Rasulullah, Ali bin Abi Thallib
memberikannyanama Harb (perang). Itu kata yang disenangi dan macho. Tapi kata Rasulullah,” Jangan itu namanya, karena tidak bagus, ganti dengan
Hasan.” Rasulullah memberi nama yang lembut. Artinya apa? Menurut Syaikh Qardhawi, kosa kata perang itu adalah kosa kata yang paling tidak
disenangi dalam islam. Tidak ada orang yang senang dengan kata itu.

Kita sebenarnya tidak menginginkan peperangan. Tetapi kadang itu adalah keniscayaan dalam hidup yang dipaksakan kepada kita dan kita harus
menghadapinya. Itu sudah pertarungan hidup yang diciptakan oleh Allah SWT antara al-haq dan al-bathil.

Itu berarti begitu kita mengurus Negara, antum jangan bayangkan bahwa kita sudah melakukan program pemberdayaan kaum miskin, mengurangi
pengangguran, membuka lapangan kerja dan kita undang investor dari luar, tidak begitu caranya menjalankan Negara. Sama sekali tidak !

Bayangkanlah semua yang paling buruk dari yang pernah kita bayangkan. Berusahalah berpikir ada yang lebih buruk dari yang kita bayangkan. Oleh
karena itu, pada saat kita menghadapi hal-hal yang seperti itu nanti, kita tidak hanya mengandalkan semua institusi Negara, walaupun kita
mempunyai otoritas besar dalam Negara. Bagaimana kalau terjadi invasi? Saya bertemu dengan pejabat-pejabat tinggi TNI,”Pak, kalau kita diinvasi
oleh Amerika seperti Irak,berapa lama bias bertahan?” Dia bilang,”Insya Allah tidak akan lebih dari dua hari seluruh kota di Indonesia akan
dikuasai. Setelah itu kita akan masuk ke hutan dan baru memulai perang gerilya.”

Jadi jika terjadi hal-hal seperti itu, siapa yang antum andalkan? Kader. Tidak ada lagi yang lain. Itulah alasannya dalam setiap level
keanggotaan (ruthbah tanzimiyah) bukan kompetensi yang diuji, tapi derajat kesetiaan, karena sebenarnya ujiannya ada disitu.

Maka kita memahami dengan baik, begitu aktivitas tarbawiyah di dalam melemah, itu artinya kekuatan strategis akan hancur dengan sendirinya.
Artinya kita mengeropos walaupun secara politik mungkin saja kita membesar.

Kalau antum memahamai kata kunci pengendalian terhadap Negara, terhadap umat, dan terhadap keseluruhan teritori saat kita menghadapi bahaya,
antum akan mulai mengerti mengapa kaderisasi adalah kata kunci bagi pertumbuhan dan kemajuan umat, karena antum sebagai pemimpin (qiyadah)
yang ada pada lapisan terdalamnya.

Antum adalah saripatinya bangsa atau kaum ini. Kalau terjadi pelemahan disini maka lapisan-lapisan luar tidak bisa kita kendalikan. Baik dalam
kategori pengendalian terhadap Negara, pengendalian terhadap kualitas umat, maupun terhadap fungsi pertahanan strategis kalau-kalau kita
menghadapi bahaya.

Ikhwah sekalian,

Selanjutnya, poin terakhir yang ingin saya sampaikan adalah, masalah pandangan futuristic ke depan. Berdasarkan hasil analisa situasi politik
sekarang, saya merumuskan bahwa di masa yang akan datang, partai-partai yang bisa bertahan adalah yang memiliki beberapa karakter, diantaranya :

PARTAI YANG MENGGABUNGKAN DEMOKRASI INTERNAL, SOLIDITAS DAN MILITANSI

Jika Cuma ada demokrasi internal tapi tidak ada militansidan soliditas, ini bahaya. Karena demokrasi akan mengalami suatu proses materialisasi. Orang menjadi sangat materialistis. Saya mempunya satu asumsi bahwa semua partai besar di masa yang akan datang, akan mengalami penurunan
perolehan suara karena berkurangnya soliditas internal mereka. Tetapi PKS juga punya ancaman tidak akan bertumbuh besar lagi kalau
soliditasnya sudah mulai tidak terjaga.

Soliditas internal kita ditentukan terutama oleh kematangan tarbawi kita semuanya. Jika kadar kematangan tarbawi itu rendah, itu menyebabkan kita mudah mengalami gempuran dari luar dan tiba-tiba akan mengakibatkan tidak solid. Misalnya, kalau kita tidak matang secara tarbawi, maka
prinsip-prinsip tabayyun itu bisa hilang dan itu bisa merusak serta mengurangi tsiqah sesama kita.

Untuk menjaga soliditas, kata kunci yang penting di jama’ah dakwah ini adalah jalur tarbawi. Jadi kalau level nuqaba saja sudah tidak ada
kesolidan, maka ada ancaman jangka panjang bagi jama’ah dakwah ini. Itu sangat berbahaya. Karena itu harus ada early warning system di internal
jama’ah dakwah ini tentang masalah kematangan tarbawi. Kaderisasi membutuhkan maufakkir tarbawi (pemikir tarbiyah). Kita harus mempunyai
tiga level kualitas kader secara tarbawi. Ada yang levelnya adalah mufakkir (pemikir) tarbawi, ada yang levelnya ‘idari (manajer) tarbawi
dan ada juga yang levelnya murabbi.

Antum semua yang ada disini seharusnya mempunyai ketiga kompetensi tersebut sekaligus, karena hanya dengan begitu antum bisa menjamin
adanya peningkatan kedewasaan tarbawi antum. Salah satu alat ukur kedewasaan tarbiyah, kalau antum mau lihat, adalah mutu gossipnya dan
jenis-jenis konflik yang sering terjadi antara ikhwah.

Antum lihat perhatian-perhatian nya. Concernya pada masalah kecil atau besar. Antum lihat lagi usar, apa perhatiannya? Yang mereka bicarakan
diluar agenda resmi itu apa saja? Kalau yang mereka persoalkan itu adalah persoalan-persoalan kecil, antum bisa membayangkan, orang yang
berada di lapisan terdalam di umat ini berarti pikiran-pikirannya kecil, concernnya yang kecil-kecil. Masalahnya bukan masalah-masalah yang
strategis. Padahal, seharusnya level obrolan antum adalah level obrolan-obrolan yang strategis.

Usar-usar ‘amilin dan nuqaba, harus berpikir di level-level strategis tersebut. Karena mereka sekaligus mufakkir tarbawi,’idari dan murabbi.
Pada tiga kualitas ini lihat kedewasaannya, dengan melihat concernya. Saya melihat masih banyak sekali kader inti di level sangat inti ini,
obrolan-obrolannya itu masalah kecil semuanya. Kalau antum semuanya para qiyadatul ummah itu membicarakan masalah-masalah kecil, terus yang akan membicarakan masalah-masalah besar siapa?

Level of problem itu menentukan kualitas hidup orang. Jenis masalah yang antum hadapi itu, tidak akan keluar dari lingkaran kepribadian antum.
Kalau antum temperamental, antum pasti punya masalah dalam soal komunikasi dan hubungan dengan orang. Kalau antum lemah dan malas, antum
punya masalah dengan produktivitas. Kalau terlalu agresiv, antum biasanya punya persoalan dengan kerjasama dan amal jama’i. jadi, level
of problem menentukan kualitas orang.

Antum lihat lagi, konflik-konflik yang terjadi di internal kita, layakkan hal-hal itu menjadi penyebab konflik? Semua itu menentukan
ukuran-ukuran kematangan tarbawi. Ada orang yang misalnya karena belum mendapatkan sosialisasi, terus mutung, “Ya sudah terserah saja, deh”.
Itu tidak bagus. Mutu konflik kita kadang tidak menunjukkan bahwa kita berkelas. Begitu juga dengan cara kita mengelola konflik, seringkali
tidak juga menunjukkan cara yang berkelas, punya tradisi ilmiah, punya tradisi syura’ dan seterunya. Inilah kronik-kronik permasalahan yang kita hadapi dalam proses pendewasaan.

Proses pembesaran PKS terutama disebabkan oleh menurunnya perolehan suara-suara partai-partai besar dan meningkatnya perolehan suara kita
yang disebabkan Karen meninggkatnya kepercayaan kepada institusi. Harus kita lihat dari awal, bahwa kita mengedepankan institusi dan bukan pada
tokoh. Jadi kalau kita sudah tidak punya tokoh, kemudian institusi kita rapuh, maka yang akan dipilih orang dari PKS ini apa? Tidak ada lagi.

Masalah-masalah yang akan dihadapi Indonesia di masa-masa yang akan datang sebagian besarnya masalah-masalah global. Rakyat Indonesia , akan
menghadapi suatu fakta persoalan nasional yang tidak bisa diselesaikan dengan pertimbangan internasional, dalam konteks globalisasi. Begitu PKS
berada di puncak kepemimpinan nasional, misalnya, persoalan-persoalan efek globalisasi ini akan jauh semakin besar. Maka, tidak ada partai
yang bisa bertahan kecuali partai yang memiliki visi dan misi peradaban.

Maka, implikasinya, parpol merupakan sumber daya utama kepemimpinan nasional. Dan, bahwa pemimpin harakah yang akan kita migrasikan untuk
menjadi pemimpin Negara harus yang mempunyai kapasitas qiyadah hadhariyah (pemimpin peradaban).

Pemimpin Negara yang kita harus kita persiapkan adalah pemimpin yang kosmopolit. Tsaqafahnya, pergaulannya, semuanya punya cirri kosmopolit.
Implikasi internalnya adalah proses tarbawiyah kita harus semakin terintegrasi.

Kader baru yang kita lahirkan di kemudian hari harus merupakan kader yang memiliki wawasan ini. Sehingga dari tahun ke tahun, orang-orang
yang kita cemplungkan ke dalam ke kepemimpinan di lembaga-lembaga Negara ini menjadi icon-icon peradaban yang bagus. Mulai sekarang harus ada
pematangan terus menerus dari segi wawasan.

Syaikh Qardhawi dalam banyak taujihnya ketika di Indonesia mengatakan, bahwa Indonesia itu mempunyai semua asset untuk menjadi sebuah peradaban
besar di kemudian hari. Itu berarti yang paling bertanggunjawab untuk mengubah Indonesia menjadi icon peradaban dunia adalah PKS, karena kita
adalah saripatinya bangsa ini. Ini adalah konsep perjuangan kita.

Wallahu a’lam bishshawab.


Ust. Anis Matta

(Disampaikan di acara BPK DPW DKI Jakarta)

Rabu, 05 Agustus 2009

RI’AYAH MA’NAWIYAH (2)

Pertama, at-tawazun fit tauzhif, keseimbangan dalam memfungsikan potensi yang tersedia, potensi yang ada pada ikhwan dan akhwat, apakah potensi itu, potensi intelektual dengan tsaqafah kauniyahnya ataukah potensi ulama dengan tsaqafah syar’iyahnya ataukah potensi para praktisi bisnis apakah para budayawan, para seniman, para pedagang menengah, pedagang kecil, para pendidik, para sosiolog, seluruhnya harus seimbang terfungsikan. Saya sebutkan seimbang, terfungsikan, mengingat selain fungsi-fungsi dakwah, mereka pun dituntut akan fungsi-fungsi dari kafaah masing-masing. Kafaah mereka sebagai mu’allim, kafaah mereka sebagai mudarris kafaah mereka sebagai birokrat, kafaah mereka sebagai politisi, kafaah mereka sebagai pedagang dan kafaah-kafaah yang lain juga perlu difungsikan, karena semuanya adalah bagian dari khazanatud da’wah. Sekali lagi harus dengan tawazun, at-tawazun fit tauzhif. Allahu akbar walillahil hamd

Ikhwan dan akhwat fillah,

Yang kedua, at-tawazun fit tafwidh, keseimbangan dalam pendelegasian wewenang. Ikhwan dan akhwat semuanya masulin dan masulat amamallah, jangan sampai menjadi seksi sibuk sementara yang lainnya tidak kebagian pekerjaan, karena kurang pendelegasian. Pendelegasian pekerjaan sudah barang tentu dengan keseimbangan. Jangan sampai dengan alasan kekurangan pendelegasian akhirnya si pemegang wewenang tidak melakukan apa-apa. Itu namanya tidak seimbang.
At-tawazun fit-tafwidh, seimbang dalam mendelegasikan wewenangnya, seimbang dalam melalui saluran-saluran wazhifah tanzhimiyah yang tersedia di bawah tanggung jawabnya kita salurkan, karena dengan kurang seimbangnya kadar atau tafwidh pendelegasian maka akan terjadi akumulatif kesibukan, tertumpuknya kerepotan, yang akhirnya kadang-kadang menuntut diri kita menjadi otoriter, dictator, karena semuanya harus memutuskan sendiri. Padahal banyak hal yang sebetulnya bisa didelegasikan untuk memutuskan. Oleh karena itu sekali lagi at-tawazun fit-tafwidh itu harus dilakukan agar seluruh fungsionaris, ikhwan dan akhwat di jajarannya masing-masing bisa mustaqir tanzhimiyan (stabil secara struktural)
Yang ketiga, at-tawazun fit-taqrir (keseimbangan dalam pengambilan keputusan), sebab pendelegasian wewenang tanpa diberi hak mengambil keputusan dalam bidangnya juga adalah pendelegasian yang mubadzir, pendelegasian yang membuat terbengkalainya potensi orang yang menerima pendelegasian itu, makanya harus ada juga keseimbangan dalam pengambilan keputusan.
Yang keempat, at-tawazun fit-tamtsil (keseimbangan dalam perwakilan), artinya fungsi-fungsi, tugas-tugas, pendelegasian-pendelegasian yang kita berikan harus juga seimbang kepada potensi-potensi semuanya merasa terwakili; potensi ulama, intelektual, potensi birokrat, potensi teknokrat, potensi bisnismen, potensi pendidik, seluruhnya terwakili, tawazun fit-tamtsil. Mengingat jamaah kita ini semakin luas dari segi tajnid jamahiri dimana para tokoh-tokoh, pakar-pakar, shahibul kafaah bergabung dengan kita atau fit tajnid rekruiting kaderisasi sudah menampakkan aneka ragam kafaah, aneka ragam muyul, yang kita rekrut, sudah barang tentu mereka secara structural merasa terwakili. Ini harus diperhatikan mengingat qa’idah tanzhimiyah kita semakin luas semakin menjangkau aneka entitas kemasyarakatan.

Ikhwan dan akhwat fillah,

Semuanya bisa mengekspresikan, bisa mengaktualisasikan, bahkan bisa mengartikulasikan ide-idenya, pendapat-pendapatnya, bakat-bakatnya, ahli-ahlinya, seluruhnya tampil dalam hidup kejamaahan yang memang membutuhkan mereka semua karena doktrin kesyumuliyahannya dan ketakamuliyahannya.
Yang kelima, at-tawazun fi tamwil, sebagai dukungan bagi kokohnya tawazun fi tauzhif, tawazun fi tafwidh, tawazun fi taqrir dan tawazun fi tamtsil jama’ah. Kita memerlukan tawazun fi tamwil. Kekokohan istiqrar tanzhimi selalu membutuhkan keseimbangan anggaran, keseimbangan pendanaan, atau keseimbangan pembiayaan. Karena amwal merupakan darah dari aktivitas manusia, begitu juga gerakan dakwah kita memerlukan darah itu, sesuai dengan tuntutan dan tuntunan Al-Qur’an surat At-Taubah: 41,
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Q.S. At-Taubah: 41)

Ikhwan dan akhwat fillah,

Keseimbangan anggaran dalam jamaah adalah merupakan keharusan, jangan sampai terjadi adanya bidang miskin dan bidang kaya, atau departemen ‘basah’ dan departemen ‘kering’, atau wilayah dakwah gemuk dan wilayah dakwah kurus. Untuk terjaganya tawazun fi tamwil atau keseimbangan anggaran, atau keseimbangan pembiayaan diperlukan dua hal:
Pertama, adanya keadilan anggaran antar pusat dan daerah, antara wilayah, dan antar bidang, antar departemen. Keadilan anggaran juga berarti keharusan memperhatikan keseimbangan antara kemampuan otoritas keuangan jamaah dalam memenuhi anggaran dengan tuntutan kebutuhan bidang-bidang, departemen-departemen, dan wilayah-wilayah atas anggaran
Kedua, adanya semangat ta’awun, semangat tadhamum, dan semangat takaful antar bidang, antar departemen, antar wilayah dan bahkan antar personil jamaah dakwah ini, sehingga jamaah dakwah ini benar-benar menjadi 'kal jasadil wahid’ yang seluruh komponennya saling merespon satu sama lain secara proaktif.
Istiqrar Da'wi

Ikhwan dan akhwat fillah, jika istiqrar tanzhimi tadi bisa terwujud dengan seluruh muqawwimat-nya yang lima tersebut terpenuhi, maka, insya Allah terjadilah istiqrar da'wi, dakwah kita stabil, jalan terus. Guncangan apapun tidak akan membuat kita terguling, jebakan apapun tidak akan membuat kita terperosok, situasi apapun kita tidak membuat kita terkecoh, insya Allah dakwah yang mustaqirrah, istiqrar da’wi itu adalah sangat penting dalam rangka mewujudkan matanatul jamaah tadi.

Hayawiyatul Harakah

Ikhwan dan akhwat fillah, kemudian yang ingin saya sampaikan tadi yang kedua adalah hayawiyatul harakah (masalah dinamika harakah). Dinamika harakah ini juga mempunyai keterkaitan dengan aspek manajerial yang sering saya sebutkan sebagai khuthuwat tahfizhiyah (langkah-langkah penggairahan, pembangkitan semangat) dari seluruh anggota jamaah ini, dari seluruh aktivis dakwah ini seperti yang sering saya sebutkan,
1. Pertama, musyarakah ‘inda ittikhadzil qarar (keterlibatan dalam mengambil keputusan), syuriyan wa istisyaratan, secara isytisyarah konsultatif (syura secara informal),
2. Kedua, at-tasyji’ ‘indal ijtihad (membangkitkan semangat berijtihad), berani mengemukakan pendapat, berani memberikan kontribusi pemikiran, berani memasukkan usulan-usulan harus digalakkan. Karena salah satu potensi besar yang dianugerahkan Allah pada kemanusiaan adalah akal. Kalau akal para aktivis duat dan daiyat tidak dirangsang untuk berijtihad maka akal mereka akan terbengkalai, artinya kita telah menelantarkan potensi terbesar dari kemanusiaan yang merupakan anugerah Allah Taala. At-tasyji’ ‘indal ijtihad adalah merupakan dari bagian dari keseharian manajemen dakwah.
3. Ketiga, ad-da’m ‘inda tanfizh (memberikan dukungan dalam melaksanakan tugas-tugas). Mungkin dukungan itu berupa yang mubarakah; Allah yanshurkum, Allahu yutsabbit aqdaamakum atau bahkan dengan memikirkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam back-up dalam pelaksanaan tugas-tugas kita pikirkan bersama. Jika setiap ikhwan dan akhwat di lapangan merasa bahwa ia tidak berjalan sendirian, ada ikhwan dan akhwat yang mendukungnya, ada ikhwan dan akhwat yang mendukung dengan menyediakan fasilitas sarana dan prasarana, ada ikhwan dan akhwat yang memberikan dukungan pemikiran, ada ikhwan dan akhwat yang melakukan tawashau bil haq, tawashau bis shabr, dan tawashau bil marhamah, yang menuntun dari kemungkinan-kemungkinan terpeleset kepada kesalahan, dan membantu mengokohkan kesabaran dalam menghadapi tantangan, juga yang menolong ketika mengalami kesulitan atau musibah dengan penuh kasih sayang, maka dia akan semakin dinamis dalam bergerak. Hayawiyatul harakah adalah salah satu bagian dari yang harus diperhatikan melalui khuthuwat tahfizhiyah tadi.
4. Keempat, al-i’tiraf wat taqdir ‘indal injaz (pengakuan dan penghargaan ketika berkarya). Karena sudah menjadi fitrah manusia, selain dia perlu pengakuan akan eksistensi dirinya, tapi juga perlu penghargaan atas prestasi dirinya jazaan bima kanu ya’malun itulah yang dicontohkan oleh Allah Taala, selalu ditawarkan al-jaza, al-jaza, dan al-jaza. Sudah barang tentu kita tahu bahwa seluruh duat dan daiyat motivasinya lillahi Taala. Laa uridu minhum jazaan au syukura, bahasanya memang begitu yang menjadi landasan keyakinannya dalam berjuang tapi sebagi jamaah sudah barang tentu harus menghargai setiap fitrah dari setiap aktivis dakwah. Jika berprestasi kita berikan jazaan au syukura, kalau tidak memberikan imbalan berilah ucapan terima kasih atas prestasinya.
5. Kelima, al-insyaf indal khatha’ (keinsyafan ketika dia melakukan kesalahan) sehingga jika dia bersalah pun disambut dengan sikap afwan watasamuha. Bukan saja berprestasi kita sambut dengan jazaan aw syukura tetapi jika bersalah pun afwan wa tasamuha (pemaafan dan toleransi). Kita mengakui hak kemanusiaan untuk kemungkinan bersalah jangan sampai akibat kesalahannya seorang ikhwan, seorang akhwat dilecehkan, didiskreditkan sehingga potensinya hancur di perjalanan. Padahal kesalahannya itu hanya sebuah kepeseletan dari sekian ribu langkah dakwahnya yang sudah diayunkan selama ini dengan benar. Kita jangan membunuh masa depan mereka, masa depan dakwah mereka. Karenanya lihat tuntunan manajemen dakwah Allah Taala.
Jika terjadi kesalahan, fa’fu anhum, maafkan mereka, wastaghfir lahum, bahkan secara proaktif memohonkan ampunan baginya dari Allah Taala, dan bahkan sesudah salah pun masih diperintahkan fasyawirhum fil amri, masih diajak musyawarah. Sudah mendapatkan afwu wa thalabul maghfirah, fasyawirhum fil amri, Sehingga bangkit kembali azam dia untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Sehingga memiliki kembali tekad bersama faidza ‘azamta fatawakkal alallah, innallaha yuhibbul mutawakkilin.
Ikhwan dan akhwat fillah, khuthuwat tahfizhiyah ini untuk memelihara hayawiyatud da’wah. Untuk memelihara hayawiyatud da’wah kita harus mendorong:

1. Semangat interaktif dari seluruh kader-kader dakwah dengan segala permasalah Islam wal muslimin, segala permasalahan bangsa dan tanah air, segala permasalahan dunia dan kemanusiaan. Dengan semangat interaktif terus-menerus dengan segala qadhaya, Islam wa qadhaya ummah, qadhaya wathan wal qaum, wa qadhaya insaniyah wa ‘alamiyah, insya Allah, kegairahan itu bisa terpelihara.

2. Syajaah adabiyah, keberanian moral untuk melangkah karena sadar akan tanggung jawabnya dalam perjalanan dakwah ini.

3. Jur-atul mubadarah, keberanian untuk berinisiatif, keberanian untuk melangkah, keberanian untuk melakukan sesuatu, if’al syai’an lillah, if’al syai’an lil islam wal muslimin, dia lakukan sesuatu, berani dengan jur-atul mubadarah. dengan keberanian berinisiatif.

4. Jur-atul ibtikarah, keberanian berkreativitas, menemukan asalib jadidah (metode-metode baru), wasail jadidah (sarana/prasarana baru) dan mungkin ijra-at jadidah (prosedur-prosedur baru) untuk mensukseskan dakwah ini. Ikhwan dan akhwat fillah insya Allah dengan dua hal tadi hayawiyatul harakah (dinamika gerakan) dakwah kita akan dipelihara dengan terus menerus.

5. Keberanian menghadapi kenyataan, apapun adanya kenyataan yang kita hadapi, kita harus bisa mengontrol diri, dan kemampuan mengontrol diri merupakan langkah awal untuk mampu mengontrol keadaan dan bahkan mampu merubah keadaan menjadi lebih baik.

Maka disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka… (Q.S. Ali Imran: 159)
Intajiyatud Da’wah
Munthalaq da’wah kita yang ketiga adalah intajiyatud da’wah (produktivitas dakwah) . Berdakwah sering kali hasilnya itu bernilai substansial tapi secara material tidak ril kelihatan. Kadang-kadang kita bekerja, bekerja, bekerja,.. apa ya hasilnya? Sudah barang tentu ada ukuran-ukuran yang menandai keberhasilan dakwah itu. Tapi ukuran-ukuran itu memang cenderung normatif tapi bisa dijadikan patokan, yaitu pertama intajiyatud da’wah kita bimayurdhillah (dengan apa-apa yang membuat Allah ridha. Dan keridhaan Allah yang diturunkan kepada para dai membuat dia, hatinya dikucuri rahmat oleh Allah sehingga hatinya lembut (rahabatush shadr), santun, fabima rahmatillahi linta lahum. Jadi ada refleksi dari hasil dakwah yang menghasilkan ridha Allah yaitu hati yang penuh dengan ghamarati rahmatillah (curahan rahmat Allah) yang qulub layyinah, mutasamihah (hati yang lembut, santun toleran dan seterusnya. Itu tandanya ada keberhasilan bima yurdhillah. Begitu juga bima yanfa’ul islam wal muslimin, yang kedua, keberhasilan dakwah dengan memberikan manfaat kepada Islam dan muslimin. Ini responnya akan nampak lebih jelas lebih real kelihatannya yaitu kalau kita melakukan perintah Allah dengan uslubul ihsan saja, salah satu uslubnya wa ahsin kama ahsanallahu ilaik, sudah barang tentu, hal jazaul ihsan illal ihsan. Kalau kita nuhsinu lin nas bima yanfa'uhum mereka pun akan yuhsinu bid da'wah bima yanfa’ul jamaah. Otomatis saja, kalau kita selalu berbuat memproduk keihsanan bima yanfa’ul islam wal muslimin. Otomatis al-muslimun yuhsinuna ilaina bima yanfaud da’wah wal jamaah. Itu otomatis.
Coba kita hitung perjalanan dakwah kita sekian puluh tahun atau sekian belas tahun. Betapa kontribusi dari al-muslimin wal muhsinun lid da’wah terasa. Di tahun pertengahan 80-an, liqaat ikhwan dan akhwat tidak diketemukan mobil bahkan motor pun jarang Sekarang tempat parkir pun sempit oleh mobil-mobil para duat, itu adalah bima ahsanallahu ilaikum. Itulah ihsan Allah kepada antum semua setelah berbuat ihsan dalam dakwah, berbuat itqan dalam dakwah, sehingga orang-orang pun ikut yuhsinuna ila da’watina wa ila jamaatina. Dulu kita untuk menyelenggarakan pertemuan semacam ini berpikir beberapa kali untuk mengeluarkan uang; sewa gedung dengan segala sarana/prasarana, karena ketidakmampuan kita. Tapi faqad ahsanallahu ilaina, karena Allah telah berbuat ihsan kepada kita, oleh karena itu sekali lagi fa ahsin kama ahsanallahu ilaih, kita tingkatkan keihsanan kita karena Allah telah terbukti meningkatkan keihsanannya kepada kita.

Ikhwan dan akhwat fillah, sudah barang tentu terkait dengan intajiyatud da’wah juga selain bima yanfaul islam wal muslimin atau bima yanfa’unnas atau bima yurdhillah (dengan membuat Allah ridha) kita pun harus berpikir juga bimaa yunasyitud da’wah, apa yang membuat aktivitas dakwah
meningkat, gairah dakwah meningkat, gelora dakwah meningkat. Sudah barang tentu kegairahan, gelora dakwa sesuatu yang fenomena bisa dirasakan atau dilihat. Jika betul-betul langkah-langkah dakwah kita memberikan manfaat kepada semua, sudah barang tentu kegairahan itu akan meningkat merata, imma qudwatan, untuk merupakan keteladanan atau juga da’m, support yang diberikan.
Ikhwan dan akhwat fillah, begitu juga bima yutsabbitul jamaah, manfaat itu dengan apa-apa yang mengokohkan kejamaahan kita. Apakah kontribusi, na'udzubillah membuat kita longgarnya kehidupan berjamaah membuat goyangnya kehidupan berjamaah na'udzubillah min dzalik. Atau kontribusi kita justru mengokohkan jamaah dan semuanya bisa dirasakan secara langsung dalam kehidupan struktural kita dan operasional kita dalam berdakwah.
Insya Allah, ikhwan dan akhwat fillah, jika kita berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan dari soliditas jamaah, hayawiyatul harakah dan intajiyatud da’wah yang saya sebutkan tadi tantangan-tantangan yang kita hadapi, pekerjaan berat yang akan kita pikul, tanggung jawab yang luar biasa berat yang akan kita hadapi, insya Allah dengan dipikul secara amal jama’i semuanya akan terasa ringan dan terselesaikan binashrin minallah, Insya Allah.
Allahu yanshurukum wa yutsabbit aqdamakum, insya Allah. Amin ya rabbal alamin. Sekian saja kalimat dari saya, semoga tulisan ini bermanfaat....

Jumat, 10 Juli 2009

puteri, bagaimana cermin itu??


Saat ini malam telah larut, cuaca terasa dingin dan sekitarku menjadi hening, sebening hati dan perasaan sayangku kepadamu. Walau kini tidak disampingmu, aku masih selalu ingat padamu, seperti yang kulakukan setiap waktu. Dan kini, kujalankan jari-jemariku untuk menulis sebuah surat yang hanya khusus untukmu…..bukan untuk yang lain….

Puteri..
Aku teringat akan cerita ibumu tempo hari…
Saat itu engkau masih kecil seumur bayi..
Engkau belum bisa apa-apa, sehingga untuk menarik perhatian, engkau hanya menangis ditengah malam membangunkan keluarga.

Kemudian, engkau tumbuh menjadi gadis kecil yang selalu bermanja di pangkuan Bunda. Dan waktu terus berjalan…..sehingga kini engkau telah menginjak remaja. Engkau menjadi semakin besar, pintar, dan makin banyak pengalaman hidup yang telah engkau miliki. Ah…aku pun jadi rindu ibuku…mungkin akupun seperti itu saat masih kecil.

Puteri….
Saat ini, aku sedang melukis bentuk kamarmu dibenakku. Kamar dimana kita sering berkumpul untuk bercerita banyak hal. Aku masih ingat detil kamarmu, ada almari baju, rak buku, kotak permen, dan Hmmm……cermin itu …yang selalu kau sebut sebagai cermin paling indah… Engkau memang sudah lama memilikinya, dan aku yakin engkau pasti makin suka, karena setiap hari membutuhkannya.
Puteri….. Aku teringat sesuatu tentang cermin itu. Dirumahmu, ada satu lagi cermin besar di ruang tamu. Tak jarang aku melihatmu bercermin disitu ketika engkau tergesa-gesa berangkat.Bahkan didepan kaca jendela, sering….sering sekali aku melihatmu mematut diri apakah terlihat rapi atau tidak. Agar teman-temanmu nanti tidak mengolokmu, begitu selalu katamu.Aku menduga, mungkin engkau juga sering mengaca didepan etalase pertokoan untuk bercermin. Iya nggak ?

Puteri yang amat kusayangi,,,, Jauh di lubuk hati yang paling dalam, ada yang ingin kubicarakan dengamu hari ini. Hanya sebentar saja, cukup sebentar. Nggak akan lama. Engkau ada waktu, kan?

Bukan, bukan pertanyaan bagaimana kabarmu, atau kabar teman-teman seperti yang biasanya kita bicarakan. Namun lebih dari itu. Aku ingin kita berbicara khusus mengenai diri kita,karena aku sadar bahwa semakin hari kita tumbuh semakin tinggi, bukan hanya tinggi badan kita, namun juga ketinggian pola berpikir kita. Kita bukan kanak-kanak lagi yang harus menyuruh kita begini begitu. Kini kita sudah besar, sehingga banyak yang harus kita siapkan agar makin dewasa untuk menentukan sendiri jalan hidup kita nanti.

Wahai puteri….. Hari demi hari telah kita lalui.Telah banyak perubahan yang terjadi , ‘kan? Izinkanlah aku untuk bertanya sesuatu padamu…Kalau kau pandangi dirimu di cermin indah kamarmu itu, apa yang engkau lihat disana? Apakah sesosok gadis remaja yang sudah cukup matang mengarungi hidup ataukah yang masih menjalani proses perubahan membentuk diri? Mungkin, engkau akan menjawab kedua-duanya…atau mungkin hanya salah satu jawaban…
Nggak apa-apa Puteri…Aku bisa memahaminya….

Puteri, ketika engkau didepan cermin yang indah itu….
Masih ingatkah dirimu berapa sering engkau bercermin?
Dan sadarkah engkau siapa yang muncul di cermin itu?
Ya, memang itu adalah engkau.Engkau Puteri…

Engkau yang dulu terlahir dari rahim Bunda, setelah malaikat meniup ruh dan menulis catatan tentangmu ketika engkau masih menjadi janin usia 4 bulan.

Wahai Puteri…. Ketahuilah…Kita semakin beranjak dewasa, dan telah banyak waktu yang kita lalui bersama-sama. Kukenal dirimu jauuuh lebih baik dari yang lainnya. Begitupula sebaliknya. Ada satu hal yang ingin kutanyakan lagi, “Apakah saat ini engkau telah mengenal dirimu sendiri, wahai saudaraku tercinta?Bukan sekedar mengiyakan bahwa sosok bayangan depan cermin itu adalah dirimu? ” Jawablah Puteri, tak usah engkau malu-malu…..karena ini penting. Ini penting sekali sebagai bekal hidupmu kelak, karena seperti yang kita sama-sama mengerti, sekarang ini kita sedang dalam proses mendewasakan diri…dan itu butuh bekal agar kita tidak salah arah.

Puteri sayang….. Izinkanlah aku mengatakan sesuatu kepadamu…

Ketahuilah oleh dirimu, bahwa aku dan kau sama-sama manusia, dua orang hamba yang banyak diberi karunia oleh Allah….karena memang Allah yang menciptakan diriku dan dirimu… Allah yang memenuhi kebutuhanku dan kebutuhanmu, dan Allah pula yang telah mengatur semuanya sehingga kita tumbuh segini besar. Hanya Dia, Puteri….
Ditangan-Nyalah diatur segala urusan, termasuk urusan langit, bumi, hewan, tumbuhan, dan kita para manusia…. Allah di atas langit pula yang telah menentkan bahwa kita tercipta sebagai wanita, sebagai muslimah…Dan lihatlah, betapa tingginya Allah memberi kedudukan kepada kita, sampai-sampai dalam kita suci kita, Al-Quran, Allah membuat surat khusus bernama “An-Nisa” yang artinya perempuan.

Wahai Puteri, engkau masih ingat nama surat itu bukan ? Ini adalah satu diantara sekian tanda bahwa Allah memuliakan kedudukan wanita. Kelak Insya Allah, dari rahim kita lah akan lahir ummat Islam yang banyak, sehingga di hari Akhir nanti, Nabi kita, Nabi Muhammad Shollallaahu’alayhi wa sallam akan mengatakah dengan bangga atas jumlah ummat yang banyak. Bahkan, tentang kodrat wanita, RasuluLlah pun bersabda,

“Sesungguhnya dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalehah”.

Hadits ini disampaikan oleh Imam Muslim, dan memang benar dan shahih bahwa ini perkataan Rasul. Engkau kini yakin bukan bahwa Allah dan Rasul-Nya amat menjunjung martabat kita?

Puteri yang amat kusayangi… Kuajak diriku dan dirimu…Yakinlah dengan seyakin-yakinnya bahwa Allah memilih aku dan kau untuk hadir kedunia ini dengan hikmah penciptaan yang agung ; bukan sembarangan, karena Allah Maha Kuasa mencipta apapun yang dikehendaki-Nya, sehingga mustahil bagi Allah untuk sembarangan dalam berbuat, karena Dia Maha Mengetahui dan Maha Luas ilmu-Nya.

Sekarang, cobalah pikirkan lebih dalam… Sampai detik ini, telah banyak sekali nikmat Allah yang tercurah kepada kitam sedari kita kecil sampai sekarang. Dan itu memang karena kebaikan Allah semata, bukan dari yang lain. Allah yang berkuasa berbuat kebaikan, Allah memberi nikmat sehat, ketenangan hati, teman sepergaulan yang baik, ini….itu…., tentu amat sangat banyak, sehingga aku tidak mampu menuliskan semuanya untukmu, karena aku yakin Allah selalu berbuat kebaikan kepada kita semua. Engkau ingat bukan……tempo hari kakimu tidak tergores meski berjalan di atas batu-batu. Itu adalah nikmat Allah yang mungkin terasa kecil bagi kita. Sedangkan nimat yang besar, dan yang paling besar yang mungkin kurang terpikirkan oleh kita…..adalah nikmat iman. Dengan nimat dari Allah yang satu ini, kita bisa dengan bangga menyandang predikat muslimah.

Sungguh Puteri……..tidak banyak wanita-wanita di dunia ini yang bisa dipanggil muslimah. Tengoklah ke negara-negara yang penduduknya tidak mengenal Allah sama sekali, atau mengenal Allah dengan hanya menyebut nama-Nya ketika sedang susah tertimpa bencana, atau bahkan mereka yang malah menyekutukan Allah dengan memohon bantuan kepada selain Dia. Engkau mengetahui keadaan mereka, bukan?

Semoga Allah melindungi kita supaya tidak termasuk golongan mereka. Amin.

Wahai Puteri….. Marilah bersama-sama mengucapkan syukur AlhamduliLlah atas nikmat ini…karena semakin kita mempelajari nikmat Allah dan meyakini betapa Allah Maha Mengetahui atas jiwa-jiwa ini, kita akan bisa semakin memahami hikmah mengapa aku dan kau diciptakan, dan mengapa pula kita semua harus beribadah hanya kepada-Nya…..

Ya, benar….hanya kepada-Nya, karena memang Dia satu-satunya yang berhak untuk disembah. Lain tidak, karena selain Dia hanyalah ciptaan-Nya. Sehingga kita tidak boleh menduakan-Nya dengan apapun atau siapapun. Bagaimana, Puteri ? Engkau memahami hal ini, ‘kan? Aku berharap demikian, karena bagiku, tidak ada yang lebih kuinginkan darimu, kecuali kebaikan untukmu di dunia dan akhiratmu kelah. Karena apa? itu karena aku amat sayang kepadamu…..Aku sayang sekali padamu….

Puteri tercinta, tak terasa sudah kutulis berbaris-baris surat cintaku ini kepadamu. Insya Allah, apa yang kutulis ini adalah sebuah nasehat yang tulus dari hatiku, sebuah nasehat bagiku dan bagimu, agar kita bisa menemukan sosok dewasa cermin indah itu…. karena suatu hari nanti, kita pasti dan harus lebih dewasa daripada hari ini. Dan sebaiknya memang begitu, seiring usia yang bertambah, kita mejadi lebih mengenal akan diri kita yang sebenarnya dan lebih mengerti hak-hak Allah atas diri kita.

Kuakhiri suratku ini…puteri… Semoga Allah mengaruniakan kesempatan kepadaku sehingga bisa kutulis lagi surat untukmu. Dan kuberdoa semoga Allah mengasihi diriku, dirimu, keluarga kita dan kaum muslimin semuanya. Semoga kita selalu mencintai Allah dan Allah pun mencintai kita….Amin. (Sahabat: Asy-D3in)

Rujukan :
1.Abdur Rahman , Abdul Muhsin ; Jagalah Dirimu
2.Majalah As-Sunnah edisi 08/V/1422H-2001 M

Diketik kembali dari oleh Ummu ‘umar dari Buletin Puteri (Jilbab Online)