Sabtu, 29 Mei 2010

Matinya Aktivis Di Tangan Finansial

by: Lia muliana rozana

Sering kita temukan banyaknya aktivis yang bergerak di berbagai bidang. Ketika kita lihat sepak terjangnya di dunia dakwah, dengan analisanya terhadap sebuah permasalahan, kemampuannya dalam melobi hingga kerja dakwah menjadi sedemikian lancarnya, sehingga segala prediket menempel di pundaknya. Semua orang bertepuk tangan bangga padanya. Orator handal, motivator dahsyat dan tetek bengek lainnya. Setiap dia bertemu dengan orang tidak ada yang mengenalnya. Bahkan siapa yang pernah bersalaman dengannya, kenal dengannya, atau dikenal olehnya menjadi begitu bangga. Bangga dikenal oleh seorang yang terkenal.
Di bidang akademik, mungkin dia bukanlah orang yang menonjol, namun karena sikapnya yang supel dan menyenangkan menjadikannya orang yang terkenal juga. Banyak dosen yang senang karena daya analisa dan kekritisannya.
Pokoknya dengan seabrek-abrek aktivitas tak membuatnya kendor. Bahkan dalam jenjang amanah, mungkin dia termasuk orang yang mengalami percepatan. Cepat diperhitungkan, cepat diberi amanah dengan jabatan lumayan berat, cepat segala-galanya.
Dari segi ruhiyah, mungkin dia adalah orang bisa dianggap terjaga. Qiyaumul lail hampir tak pernah dilewatkannya. Shalat-shalat sunnah lainnya jarang tidak dilaksanakannya, meskipun dengan alasan apapun, tetap diusahakannya.
Intinya, dia secara kasat mata adalah orang yang sangat dijadikan contoh dan tauladan dan menjadi profil idola bagi banyak aktivis lain. Menjadi tokoh dakwah yang cukup diperhitungkan karna kerja dakwahnya. Semua waktunya benar-benar dipersembahkan untuk dakwah semata.
Alhasil, semakin banyaklah amanah yang sampai kepadanya, yang tak ingin dan tak mungkin ditolaknya. Bahkan, ada seorang ikhwan pemuja beliau berkata, jika ada yang akan keluar dari wajihah dakwah ini, maka dia adalah orang yang terakhir melakukannya. Begitu besar kepercayaan yang ditimbulkannya di hati para da'i yang lain.
Namun lambat laun, namanya mulai hilang dari peredaran. Amanah yang sedang diembannya, sedikit demi sedikit ditinggalkannya. Rapat-rapat yang sering menjadi makanannya sehari-hari mulai jarang dimakannya. Mungkin karna kehilangan nafsu makan kali ya, semua orang jadi kebingungan. Kemana perginya sang idola di kampus juga lama tak kelihatan. Aktivitasnya di lembaga luar kampus pun sudah lama di tinggalkannya. Semua orang kehilangan.. semuanya kecewa..terutama para aktivis yang berhasil di kadernya.
Usut punya usut, terdengarlah kabar kalau si akhi punya kendala finansial. Keuangan yang menyebabkannya memilih untuk tidak melanjutkan aktivitas dakwahnya dan mulai berkarya untuk maisyah.. memilih menjauh dari komunitas yang akrab dengannya selama ini.. memilih untuk menutupi permasalahannya dan menghindar dari orang-orang yang begitu menyayanginya.
Mungkin fenomena di atas, tidak sekali dua kali kita dengar dan lihat sendiri. Bisa jadi kita adalah salah satu orang yang sedang mengalaminya, atau sahabat terdekat kita yang sedang mengalaminya.
Terkadang, kita salah dalam mengartikan kata aktivis. Apakah aktivis itu melulu orang yang mampu berperan di lembaga dakwah, bersedia mengorbankan harta, benda dan raganya hanya untuk lembaga tersebut? Apakah aktivis itu adalah orang hanya melulu memikirkan masalah ummat dan mengabaikan masalah dirinya?
Apakah aktivis merupakan sosok lilin yang akan menerangi orang di sekitarnya namun membakar habis dirinya dan akhirnya hilang tak berbekas?
Apakah aktivis itu adalah seorang manusia berbadan tivis, kantong tivis, IPK tivis...

Tidak!!! justru aktivis merupakan seorang yang memiliki keahlian lebih dibanding 'manusia biasa'.
Justru aktivis merupakan seorang yang memiliki inovasi dan kreativitas lebih tinggi untuk menjadi 'pencipta' sesuatu, bukan pengisi yang sudah ada.
Memiliki kemampuan 'menciptakan' bukan malah menjadi pesuruh dari suatu lembaga atau organisasi finansial.
Justru seharusnya dialah trendsetter, bukan follower...

itulah aktivis sejati...
dialah lampu penerang, bukan sekedar lilin. melainkan lampu yang memiliki asupan energi yang selalu membuatnya terang dan menerangi..

aktivis seperti apakah ukhti atau akhi???? Sanggupkah antum wa antunna syahid justru bukan di medan pertempuran, tapi justru di tangan finansial..
Bukankah Allah menyukai muslim yang kuat???
Kuat fisik, kuat finansial, kuat dalam arti kemanusiaannya...

Senin, 24 Mei 2010

Memotivasi diri untuk Semangat Berdakwah


Tausiyah ini sebenarnya bukan hanya untuk akhwat saja tetapi boleh juga untuk ikhwan kerana ikhwan dan akhwat sama-sama mengemban kewajipan untuk berdakwah dan keduanya sama-sama punya peluang untuk mengendor semangat dakwahnya. Kalau ditinjau dari segi akhwat, seorang muslimah memang seharusnya mempunyai double power power kerana selain menjalankan peranannya sebagai anak, ibu atau isteri, dia juga harus bergiat aktif dalam dunia dakwah. Bagaimana caranya untuk memotivasi diri supaya tetap bersemangat dalam dakwah?

Status apapun yang telah disandang oleh seorang muslimah, baik sebagai seorang anak, ibu atau isteri maka aktivitinya dalam dunia dakwah sudah menjadi suatu keharusan. Sebab dakwah ilallah adalah kewajipan yang telah telah dipikul sejak masa Rasulullah saw sehingga saat ini. Bahkan muslimah di masa itu ikut bersama dalam memikul beban dakwah.

Mereka sedar bahawa mereka mempunyai kewajipan untuk melaksanakan dakwah sesuai dengan tabiat dan kemampuannya. Mereka memahami betul makna dakwah dan berbagai tuntutannya, bahawa dakwah bukan hanya ceramah-ceramah yang disampaikan kepada manusia tapi tugas yang lain diabaikan. Dakwah bagi mereka adalah tabligh, amal dan sekaligus jihad fi sabilillah di medan perang ketika situasi memang mengharuskannya. Pemahaman dakwah seperti inilah yang kita ingin hadirkan kembali.

Kita tidak menghendaki semangat dakwah yang mengendor dan melemah setelah melewati hari-hari awal berdakwah yang kita lalui dengan semangat juang, dipenuhi dengan iman, kecintaan, persaudaraan dan pengorbanan. Namun ketika berlalu masa yang panjang, kesibukan dalam rumah tangga, mengurus anak, mencari rezeki, semua aktifitas di masa lalu hanya menjadi sebuah kenangan indah, album lama yang disimpan.

Untuk dapat termotivasi lagi dalam menjalankan dakwah, maka kiat-kiat yang diperlukan:

1. Memahami tujuan hidup

Ibadah kepada Allah adalah merupakan tujuan dari penciptaan kita, sehingga apapun bentuk amal perbuatan itu dilakukan dengan kesedaran bahawa Allah selalu berada bersama kita dan selalu mengawasi gerak-geri kita.

2. Memahami kewajipan dakwah dan keutamaannya

Secara hukum dakwah adalah kewajipan yang harus diemban bagi setiap muslim. Fahami dengan mendalam.

"Ucapan mereka menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahawa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu" (An-Nahl[16]:25)

"Kamu umat Islam adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasiq." (Ali Imran[3]:110)

Juga hadis-hadis sahih seperti (Sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat, HR. Ahmad, Bukhari dan Tarmizi).

Memahami keutamaan dakwah, sehingga setiap muslim yang menjalankannya akan memperoleh derajat yang tinggi di sisi Allah dengan dikelompokkan ke dalam khairu ummah (ummat yang terbaik), memperoleh pahala yang amat besar (Barangsiapa yang menunjukan pada suatu kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakannya, HR.Ahmad, Muslim, Abu Daud dan Tirmudzi), memperoleh keberuntungan, baik dalam kehidupan dunia mahupun di akhirat, terhindar dari laknat, memperoleh rahmat Allah.

"Orang-orang kafir dari Bani Israel telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu kerana mereka derhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan munkar yang selalu mereka perbuat." (Al-Maidah[5]:78-79)

"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka menjadi penolong sebahagian yang lain, mereka menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, melaksanakan solat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa dan Mahabijaksana." (At-Taubah[9]:71)

3. Memahami nilai dunia dibandingkan akhirat

Dunia bukanlah segala-galanya, oleh karena itu tidaklah pantas kita merasa aman di dunia sementara tidak memiliki perbekalan yang memadai untuk menghadap Allah, dan kita tentu tidak akan rela mengorbankan kehidupan yang kekal abadi hanya untuk mencari kehidupan yang fana ini. Kalaulah dalam menjalani kehidupan ini penuh dengan cubaan, musibah dan ujian, namun pada dasarnya kita tidak akan hidup selama-lamanya di dunia ini sebab dunia ini adalah penjara bagi orang yang beriman.

4. Meyakini dengan sepenuhnya konsep hari perhitungan (yaumul hisab)

Kesedaran akan hari perhitungan, syurga dan neraka akan memotivasi diri untuk mengisi seluruh waktu dalam kehidupan beribadah dan berdakwah kepada Allah, karena setiap amal sekecil apapun akan ada nilai dan pertanggungjawaban di hadapan Allah, setiap amal adalah merupakan investasi abadi.

5. Mengakrabi kehidupan dengan Al Qur’an dan as-Sunnah serta berupaya untuk selalu berada di tengah orang yang sholeh.

Dengan merenungi ayat-ayat Allah akan dapat memberi semangat dalam memelihara ketaatan dan meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, apalagi didukung dengan pergaulan bersama orang-orang yang sholeh. Upayakan untuk selalu hadir dalam pertemuan rutin, niatkan sepenuhnya hanya karena Allah walaupun terdapat kekurangan di dalam pertemuan tersebut, paling tidak niat silaturrahimnya sudah terpenuhi.

6. Menghindarkan diri dari semua bentuk kemaksiatan dan dosa-dosa kecil.

Kerana sekecil apapun perbuatan maksiat dilakukan, akan dapat mempengaruhi hati dan ketaatan pada Allah. Karena pada dasarnya iman itu naik dan turun, naik dengan melaksanakan ketaatan pada Allah, dan turun karena melakukan maksiat padaNya.

7. Mengingat bahawa kematian itu datang secara mendadak

Hal ini akan mendorong kita untuk berlumba-lumba melakukan ketaatan kepada-Nya, karena ajal itu datang tanpa diundang. Alangkah indahnya apabila Alah memanggil kita dalam keadaan melaksanakan tugas dakwah, sehingga mendapatkan Husnul Khotimah.

8. Memohon pertolongan dan bantuan Allah.

Senantiasa berdoa padaNya: Allahumma a’inni ‘ala zikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika (Ya Allah Bantulah aku (senantiasa) dalam mengingatMu, mensyukuri (segala nikmatMu), dan dalam menyempurnakan ibadah-ibadahku padaMu). Mensyukuri nikmat Allah berupa hidayah adalah dengan berdakwah kembali menyebarkan nilai-nilai hidayah yang telah kita peroleh, itulah realisasi rasa syukur kepada Allah sehingga kita dapat menyempurnakan ibadah-ibadah kita hanya kepadaNya.

(sumber: majalah Tarbiyah Edisi 11 Th.2/Rajab-Sya’ban 1427 H)

Kamis, 20 Mei 2010

Karena Taman Itu Disirami


Berawaldari sebuah lelucon dengan kawan tentang bercocok tanam sampai masalah berumah tangga, semoga tulisan ini bermanfaat dan maaf bila ada yang salah..........

Indahnya pergaulan pasutri dalam membina rumah tangganya sarat dengan keharmonisan. Keharmonisan merupakan sebutan yang sering dan selalu didamba keberadaannya oleh setiap pasutri. Hal ini wajar, mengingat begitu pentingnya peranannya dalam kehidupan setiap pasutri. Bisa jadi dan sangat mungkin sebab keharmonisan itu merupakan pokok keberhasilan dalam usaha mereka berdua mendayung sampan mengarungi samudera kehidupan rumah tangganya.

Termasuk unsur pokok keharmonisan setiap pasutri adalah akhlaq yang terpuji dari tiap-tiap individu. Dan termasuk pokok akhlaq terpuji adalah berbuat adil dan tidak menzholimi. Seorang suami harus mempergauli isterinya dengan penuh keadilan dan tidak ada kezholiman. Begitu pula seorang isteri harus mengimbangi keadilan suami dengan keadilan serupa. Bersihnya suami dari kezholiman ialah dengan menahan dari melakukan kezholiman kepada isterinya. Bukankah itu adalah keharmonisan?

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kedudukan yang berbeda antara suami dan istri dalam rumah tangganya, hal ini menuntut keadilan dan dibuangnya jauh-jauh kezholinman dari setiap pasutri terhadap pasangannya. Sebab dibalik perbedaan itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menganugerahkan keharmonisan bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (kaum wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka…. (QS. an-Nisa’ [4]: 34)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan para suami sebagai orang yang memiliki kuasa dalam membina para isterinya, mendidik mereka, serta memerintah mereka untuk melaksanakan seluruh kewajiban yang harus mereka tunaikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kepada suaminya, serta memberikan pelajaran kepada mereka bila mereka tidak menunaikannya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki sebaliknya.

Mengapa ditetapkan demikian? Padahal yang demikian ini benar-benar sebuah perbedaan? Memang benar, itu adalah perbedaan, sedangkan keharmonisan tidak selamanya harus sepadan, harus sama, dan harus selaras. Dalam perbedaan pun Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki keharmonisan, bahkan merupakan keharmonisan yang sesungguhnya.

Mengapa hanya suami? Sebab Subhanahu wa Ta’ala telah melebihkan para suami atas para isteri dengan mahar-mahar yang mereka bayarkan, dengan harta yang mereka nafkahkan untuk isteri mereka, dan dengan kecukupan yang mereka berikan kepada para isteri mereka. Benar-benar sebuah keharmonisan! Para isteri itu di sisi suami laksana bunga-bunga di taman yang selalu disirami.

Bukankah tidak harmonis bila yang selalu disirami tidak ’mengerti’ tuannya? Seperti juga bukan keharmonisan bila si tuan tidak menyirami tamannya? Karena taman itu disirami, maka selayaknya mawar-mawar itu memahami perbedaan ini. Hanya karena taman itu disirami maka bunga-bunga keharmonisan pun harum semerbak mewangi.